Sabtu, 29 November 2025

SUMATERA TERGENANG, BUKTI NYATA PULAU DIPAKSA TUNDUK PADA AMBISI EKONOMI

[ OPINI ] 


Sumber: Kompas.com

Pulau Sumatera yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung alam terbesar di Indonesia, kembali menanggung luka besar. Banjir bandang dan tanah longsor menghantam beberapa provinsi seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Peristiwa ini adalah bukti nyata bahwa pulau ini tidak lagi mampu memikul ambisi ekonomi yang terus dipaksakan kepadanya. Ia dipaksa bekerja, dipaksa memberi, dipaksa menyediakan ruang bagi pertambangan, industri serta permukiman. Kemudian ketika ia tidak lagi mampu menahannya, ia runtuh dalam bentuk bencana.

Dilansir dari liputan6.com, musibah ini bermula dari hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Sumatera secara terus-menerus sejak tanggal 21 sampai 23 November 2025. Curah hujan ekstrem ini memicu luapan sungai dan tanah longsor di berbagai titik. Pemerintah daerah (Pemda) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan evakuasi, pendistribusian bantuan, serta pemulihan akses, sementara tim gabungan masih bekerja di lapangan untuk memperbarui data korban, kerusakan, dan kebutuhan mendesak masyarakat.

Hujan deras memang turun tanpa henti dan dalam intensitas yang tinggi, tetapi bukan kah menyalahkan cuaca adalah cara paling mudah untuk menghindari tanggungjawab. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi tersebut bukanlah fenomena yang tiba-tiba muncul. Mereka hadir dari proses yang panjang seperti dari hutan dan pepohonan yang ditebang habis, tanah yang digali, sungai yang dipersempit, serta dari kebijakan yang lebih memihak kepada investasi dari pada keselamatan ekologis.

Dilansir dari liputan6.com, banjir bandang melanda Sumatera Barat pada tanggal 24 November dan Sumatera Utara serta Aceh pada tanggal 25 November 2025, air yang mengganas itu membawa bukti yang tidak bisa disangkal, batang-batang kayu gelondongan, tanah gembur yang longsor, dan material dari kawasan hulu yang sudah tidak memiliki pelindung alami. Pohon-pohon yang seharusnya menahan dan menyerap air itu kini tinggal kenangan. Ketika hutan diratakan untuk membuka lahan perkebunan dan proyek industri, maka tidak ada lagi penyangga yang mampu menahan derasnya air yang datang, dampaknya ketika hujan turun deras desa-desa dibawahnya tidak punya waktu untuk bersiap. Pada akhirnya yang menanggung dampaknya ialah masyarakat sekitar bukan mereka yang memberikan izin untuk membuka lahan tersebut.

Aceh mengalami luka yang lebih dalam lagi. Penebangan kayu, baik legal maupun ilegal, sudah terjadi begitu lama hingga banyak kawasan hulu berubah menjadi ladang terbuka. Setiap hujan deras menjadi ancaman. Aceh yang dulu dikenal sebagai kawasan dengan tutupan hutan luas kini menjadi salah satu daerah paling rentan terkena bencana di Sumatera. Hal ini tentu bukan kebetulan melainkan akibat dari pola pengelolaan alam yang hanya menghitung keuntungan, bukan keberlanjutan. 

Dilansir dari cnnindonesia.com, BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia imbas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, mencapai 174 orang sampai Jumat sore 28 November 2025.

Menurut pandangan saya, Sumatera tergenang bukan hanya karena hujan, tetapi karena dirampok hutannya, disempitkan sungainya, dan diabaikan keseimbangan alamnya. Saya turut berduka, dan bersedih atas hal yang terjadi di Sumatera. Pulau yang dulu dipuji sebagai salah satu paru-paru di Indonesia, kini sedang terengah-engah bahkan hampir kehabisan nafas. Pulau ini seolah dipaksa menjadi tulang punggung ekonomi nasional dikuliti hutannya, diperas tanahnya, dan ditumpangi proyek-proyek besar yang sering kali mengabaikan keseimbangan lingkungan. Ketika bencana terjadi, justru masyarakat kecil yang harus menanggung beban terberatnya.

Pemerintah harus segera menata ulang arah pembangunan. Pemulihan hutan wajib menjadi prioritas, disertai dengan perlindungan ketat terhadap kawasan hutan lindung, dan izin industri yang mengancam keseimbangan ekologis. Pembangunan tidak boleh berdiri lagi di atas hutan yang diratakan dan sungai yang dikorbankan. Jika hal ini tidak dilakukan, bencana seperti ini bukan hanya akan berulang, tetapi bisa datang dengan skala yang lebih menghancurkan. 

Hari ini Sumatera tergenang, besok mungkin kita yang akan menyusul. Sebab ketika alam runtuh, tidak ada satu pun ambisi ekonomi yang mampu berdiri di atasnya.

Karya: Byline
Editor: Indepth