Kamis, 03 September 2026

SEJUMLAH PRODI UIN RIL TAK IKUTI PBAK FAKULTAS HARI KEDUA PASCA KERICUHAN

 [ Berita ]

Sumber: Reporter UKM PersMa RI

Informasi via chat yang beredar terkait diliburkannya PBAK hari kedua

Raden Intan — Sejumlah Program Studi (Prodi) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) tidak mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas hari kedua pasca kericuhan.

Prodi yang tidak mengikuti kegiatan di antaranya Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan Pendidikan Matematika. Informasi mengenai peniadaan kegiatan bagi mahasiswa baru (maba) dari sejumlah prodi tersebut beredar melalui grup WhatsApp mahasiswa.

Dalam informasi tersebut, maba diimbau untuk tidak mengikuti kegiatan PBAK pada hari kedua dan tidak mendekati area kampus hingga situasi kembali kondusif.

A selaku salah satu seorang maba Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) membenarkan adanya pengumuman terkait peniadaan kegiatan PBAK pada hari kedua.

"Memang benar, Kak, bahwa panitia mengumumkan kegiatan PBAK hari kedua ditiadakan demi menjaga kenyamanan dan keamanan bersama. Namun, masih lumayan banyak maba yang tetap datang untuk mengikuti PBAK fakultas ini," jelasnya.

Maba lainnya mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kericuhan yang terjadi pada hari pertama. Ia mengatakan, informasi yang diterima mahasiswa hanya terkait peniadaan kegiatan tanpa penjelasan mengenai kronologi maupun penyebab insiden.

"Yang saya tahu cuma dapat informasi libur. Tidak ada penjelasan lain di grup, hanya diberitahu untuk libur," ungkapnya.

Berdasarkan keterangan sejumlah mahasiswa, kericuhan terjadi di area rektorat UIN RIL pada Rabu (02/09) sore, setelah rangkaian PBAK hari pertama berlangsung. Situasi yang sebelumnya kondusif berubah menjadi ricuh dan membuat sejumlah mahasiswa meninggalkan lokasi.

Reporter UKM PersMa RI







MABA UIN RIL MEMULAI PBAK HARI KEDUA DI FAKULTAS MASING-MASING

 [ Berita ]

Sumber: Fariska

Raden Intan — Mahasiswa baru (maba) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) memulai Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) hari kedua di fakultas masing-masing. (Kamis, 03/09/2026).

PBAK hari kedua dilaksanakan di gedung fakultas masing-masing. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu maba beradaptasi dengan lingkungan jurusan, memahami budaya akademik, mengenal sistem perkuliahan dan berbagai layanan kampus, serta mengetahui organisasi kemahasiswaan yang ada di fakultas.

Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Dekan beserta jajaran pimpinan dan staf fakultas di gedung fakultas masing-masing. Dalam kegiatan tersebut, maba mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan oleh pihak fakultas sebagai bagian dari PBAK. Pembukaan dan sambutan tersebut juga menjadi awal bagi maba untuk mengenal lebih dekat lingkungan fakultas serta mendapatkan arahan sebelum mengikuti rangkaian kegiatan PBAK selanjutnya.

Prof. Dr. Faizal, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi (FDIK) menekankan pentingnya usaha dan kesungguhan mahasiswa dalam meraih cita-cita. Ia menyampaikan bahwa, kita harus ingat bahwa untuk mendapatkan ilmu itu harus diupayakan dan harus berusaha, karena tanpa usaha tidak mungkin kita akan meraih apa yang kita cita-citakan.

Rayyani Awalia Ramadhani, maba Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), merasakan dampak dengan diadakannya PBAK tahun 2026.

“Dengan diadakannya PBAK 2026 dapat membantu saya beradaptasi dengan lingkungan kampus, sehingga maba lebih cepat memahami aturan, nilai dan kebiasaan dalam perkuliahan,” ungkapnya.

Sementara itu, Nailah Ansaria, maba Akuntansi Syariah (AKS), menyampaikan kesannya terhadap bahwa PBAK hari kedua.

“Saya merasa bahwa, PBAK hari kedua ini tidak kalah seru dari hari pertama. Karena sekarang sudah lebih akrab dengan temen-temen dan pastinya lebih banyak tau tentang info fakultas Kak,” ucapnya.

Rep: Desmia & Fariska

Editor: Aline

Rabu, 02 September 2026

RIBUAN MAHASISWA BARU PADATI UIN RIL, MERIAHKAN PBAK PADA HARI PERTAMA

[ Berita ]

Sumber: Anndo

Raden Intan — Ribuan mahasiswa baru (maba) memadati Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), meriahkan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada hari pertama. (Rabu, 02/09/2026).

Suasana ramai dan bersemangat mewarnai hari pertama PBAK UIN RIL 2026. Ribuan mahasiswa baru dari berbagai fakultas memadati Gedung Serbaguna (GSG) K.H. Ahmad Hanafiah UIN RIL untuk mengikuti rangkaian kegiatan PBAK dengan menyanyikan yel-yel bersama serta memakai atribut yang sudah ditetapkan masing-masing Program Studi (Prodi).

Kemeriahan maba yang terlihat selama kegiatan berlangsung, merupakan hasil dari persiapan yang telah dilakukan sebelumnya. Pada kegiatan gladi yang dilaksanakan Selasa (01/09), maba mendapatkan arahan serta melakukan berbagai latihan, termasuk persiapan atribut dan yel-yel yang dipandu oleh organisasi mahasiswa (ormawa) di fakultas masing-masing. Persiapan tersebut membuat pelaksanaan PBAK hari pertama berlangsung meriah.

Salah satu maba, Safirana Sainatul Lutfiah dari Prodi Ekonomi Syariah (ES), mengaku senang dapat mengikuti kegiatan PBAK pada hari pertama yang diselenggarakan oleh pihak kampus.

"Saya merasa senang mengikuti kegiatan PBAK hari ini. Karena dapat saya mengenal banyak teman baru, baik dari luar maupun dalam fakultas. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah kebersamaan bersama teman-teman saya," ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Yuana, maba Prodi Akuntansi Syariah (AKS). Ia mengaku kegiatan PBAK memberikan pengalaman baru sekaligus menjadi kesempatan untuk lebih mengenal kehidupan kampus.

"Di hari pertama terlaksananya PBAK ini saya merasa senang, karena saya bisa mengetahui lebih mendalam tentang kampus. Kemudian saya juga dapat melihat secara langsung petinggi-petinggi kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan ormawa lainnya yang diperkenalkan pada saat kegiatan PBAK berlangsung," ungkapnya.

Reporter: Anndo & Naila A

Editor: Brave

UIN RIL RESMI KUKUHKAN 3.564 MAHASISWA BARU DALAM PBAK TAHUN 2026

 [ Berita ]

H
Sumber: Desmia

Raden Intan — Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) resmi mengukuhkan 3.564 mahasiswa baru (maba) dalam Pengenalan Budaya dan Akademik Kemahasiswaan (PBAK) tahun 2026. (Rabu, 02/09/2026).

Pengenalan Budaya dan Akademik Kemahasiswaan (PBAK) hari pertama sekaligus peresmian calon mahasiswa baru (camaba) menjadi maba dilaksanakan di Gedung Serbaguna (GSG) KH. Ahmad Hanafiyah UIN RIL pada pukul 09.00–15.30 WIB, dengan mengusung tema “Meneguhkan Harmoni dan Budaya Kampus Hijau Menuju Generasi yang Unggul, Moderat, Ber-ISI, dan Mendunia".

Kegiatan PBAK tahun 2026 diresmikan oleh Prof. Dr. Moh. Bahruddin, M.Ag., selaku Sekretaris Senat UIN RIL dalam sidang Senat Terbuka. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., selaku Rektor UIN RIL, Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag., selaku Wakil Rektor (Warek) III UIN RIL, jajaran Senat UIN RIL, para Dekan dan Wakil Dekan (Wadek) Fakultas, serta seluruh civitas akademika UIN RIL.

Dalam sambutannya, Rektor UIN RIL mengingatkan bahwa kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan wadah pembentukan karakter pemimpin masa depan. Ia juga turut mendorong mahasiswa baru untuk aktif berorganisasi dan mengembangkan potensi diri agar menjadi sosok yang kreatif, inovatif, serta berdampak positif.

Asma Nurul selaku anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Program Studi (Prodi) Akuntansi Syariah (AKS) UIN RIL mengungkapkan bahwa kegiatan PBAK berjalan seru dan memberikan pengalaman berharga. Ia menyampaikan bahwa meski terdapat tantangan tersendiri dalam mengarahkan karakter maba yang beragam, panitia sebelumnya sudah mematangkan persiapan serta mendata seluruh maba guna kelancaran acara.

Sementara itu, salah satu mahasiswa baru UIN RIL, Suci Rahmawati dari Fakultas Tarbiyah dan keguruan (FTK), turut membagikan kesan dan harapannya setelah mengikuti kegiatan PBAK.

“Menurut saya, pelaksanaan PBAK hari ini sangat menarik dan seru. Saya dapat pengalaman baru, bertemu teman-teman baru. Saya berharap untuk PBAK tahun depan, dapat berlangsung lebih seru dan menarik lagi," ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh Tubagus Nabil Syuhada, maba Prodi Ekonomi Syariah (ES). Ia mengaku senang mendapatkan banyak pengalaman dan kenalan baru selama mengikuti PBAK.

“Selama mengikuti PBAK, saya bisa ketemu banyak orang baru, jadi menambah kenalan dan koneksi. Harapan Kedepannya, saya ingin menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi,” ujarnya.

Reporter: Salsabila 

Editor: Brave

Senin, 31 Agustus 2026

PBAK TAHUN 2026 SEGERA DILAKSANAKAN, UIN RIL TETAPKAN BEBERAPA PERUBAHAN ‎

[ Berita ]

Sumber: Youtube UIN Raden Intan Lampung
Sumber: Youtube UIN Raden Intan Lampung

Raden Intan — Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) akan segera dilaksanakan dengan sejumlah perubahan dari pelaksanaan tahun sebelumnya. (Senin, 31/08/2026).

Salah satu perubahan terdapat pada durasi pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kepada mahasiswa baru (maba) melalui pendirian stand, yang tahun ini hanya berlangsung selama satu hari. Pada pelaksanaan tahun sebelumnya, pengenalan UKM kepada maba berlangsung selama tiga hari. Sementara tahun ini, seluruh kegiatan PBAK dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, termasuk agenda gladi, dengan pelaksanaan PBAK inti selama dua hari.

‎Perubahan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian konsep pelaksanaan PBAK tahun 2026. Dalam Koordinasi Persiapan Kegiatan PBAK Tahun 2026 pada Senin (24/08), Devitha Anggun, S.E., M.M., selaku Kepala Subbagian (Kasubbag) Kemahasiswaan UIN RIL, menjelaskan bahwa perubahan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan.

‎Di sisi lain, pemangkasan waktu pengenalan UKM menjadi tantangan bagi organisasi mahasiswa untuk memperkenalkan UKM kepada maba. Nadia Rahmawati, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) UKM Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Sahabat, menyebut perubahan tersebut membuat UKM harus lebih cepat dalam menjangkau mahasiswa baru.

‎“Perubahan ini menjadi tantangan tersendiri untuk kami di UKM. Sangat disayangkan, mengingat pengalaman PBAK tahun lalu dengan alokasi tiga hari saja belum sepenuhnya optimal untuk menjangkau seluruh maba. Tahun ini memang ada penyesuaian durasi harian yang lebih panjang dari kampus, namun memadatkan seluruh alokasi menjadi cuma satu hari tentu menuntut kami untuk bergerak serba cepat,” pungkasnya.

‎Meski menghadapi keterbatasan waktu, Nadia mengapresiasi pihak kampus yang tetap memberikan ruang bagi UKM untuk terlibat dalam rangkaian PBAK tahun ini.

‎“Di luar itu semua, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak kampus yang tetap memberikan ruang dan memfasilitasi keterlibatan UKM dalam agenda PBAK tahun ini,” lanjutnya.

‎Keterbatasan waktu pengenalan UKM juga menjadi perhatian dari sisi mahasiswa baru. Wahyu Risky Yansyah, calon mahasiswa baru (camaba) Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), menilai waktu satu hari belum cukup untuk mengenal berbagai UKM yang tersedia di UIN RIL.

‎“Ternyata stand UKM di PBAK tahun ini cuma diberikan waktu satu hari, jadi pasti tidak akan cukup untuk kami eksplor stand UKM. Apalagi nanti akan diburu-buru juga. Padahal kami selaku maba, ingin punya waktu lebih banyak lagi untuk eksplor UKM yang ada di UIN RIL,” ucapnya.

‎Rep: Aline & Brave

‎Editor: Novel

‎

Jumat, 14 Agustus 2026

KELOMPOK KKN 06 TRANSFORMATIF AJAK SISWA SD LAWAN BULLYING LEWAT EDUKASI INTERAKTIF

[ Berita ]

Sumber: Kelompok KKN 06 Transformatif



Raden Intan — Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 06 Transformatif ajak siswa Sekolah Dasar (SD) lawan bullying lewat edukasi interaktif. (Sabtu, 15/08/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Sekolah SD 2 Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, dan diikuti oleh siswa kelas 6 bersama dengan mahasiswa KKN 06 Transformatif. Sebagai bagian dari program kerja (Progja), edukasi diberikan melalui pemaparan materi mengenai bullying, permainan edukatif, serta diskusi ringan bersama siswa terkait contoh, dampak, dan upaya pencegahan tindakan bullying.

Pada akhir kegiatan, para siswa diajak membuat komitmen untuk tidak melakukan bullying serta berani membantu dan melaporkan apabila menemukan tindakan tersebut di lingkungan sekitar. Kelompok 06 KKN Transformatif berharap edukasi ini dapat meningkatkan kepedulian siswa dan mendorong mereka untuk menciptakan lingkungan yang aman serta saling menghargai.

Nasrullah, mahasiswa Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) selaku Koordinator Lingkungan (Korling) Kelompok 06, menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam pelaksanaan kegiatan adalah menyesuaikan konsep dan penyampaian materi dengan karakter siswa kelas 6.

“Salah satu tantangan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah menyesuaikan konsep dan penyampaian materi dengan karakter siswa kelas 6. Tantangan tersebut dapat diatasi melalui diskusi tim dan pendekatan yang lebih dekat dengan para peserta sehingga materi dapat diterima dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Irvan HK, mahasiswa Prodi HKI sekaligus Wakil Koordinator Lingkungan (Wakorling) Kelompok 06, mengungkapkan bahwa para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung.

“Para peserta tampak antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Beberapa siswa juga mulai berani berbagi pengalaman terkait bullying yang pernah mereka alami maupun saksikan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Sani Azzahro, mahasiswa Prodi Psikologi Islam (PSI) yang berperan sebagai sekretaris sekaligus pemateri. Ia menilai peserta cukup interaktif selama kegiatan berlangsung dan cukup antusias mendengarkan materi maupun mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Reporter: Rinaila
Editor: Brave

Rabu, 10 Juni 2026

ASAH JIWA KEWIRAUSAHAAN DAN KREATIVITAS MAHASISWA, PSI UIN RIL SELENGGARAKAN PSYCHOPRENEUR 2026

[ Berita ]

Sumber: Tia

Raden Intan — Asah jiwa kewirausahaan dan kreativitas mahasiswa, Psikologi Islam (PSI) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) selenggarakan Psychopreneur 2026. (Rabu, 10/06/26).

Psychopreuner merupakan kegiatan bazar tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) PSI dengan tujuan untuk mengasah kemampuan dan skill wirausaha khususnya bagi mahasiswa PSI.

Kegiatan ini dilaksanakan di Lingkungan Fakultas Psikologi Islam (FPI) UIN RIL sejak pukul 07.30 WIB s.d. selesai, dengan mengusung tema “MBG: Market By Gen Z". Tema ini dipilih agar mahasiswa PSI dapat menerapkan ilmu bisnis dan enterpreneur.

Selain itu, Psychopreneur akan dilaksanakan selama 2 hari yakni sejak tanggal 10 s.d. 11 Juni 2026, dengan rangkaian kegiatan lainnya seperti parade pakaian adat, pengesahan sertifikasi halal, publikasi produk, pentas seni, talkshow, dan menghadirkan 55 tenant Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mahasiswa.

Turut dihadiri oleh Dr. Rika Damayanti, M.Kep., Sp.Kep.J, selaku Wakil Dekan (Wadek) I FPI, Anisa Fitriani, S.Psi. M.A., selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) PSI, Indah Fajriani, M.Psi., selaku Sekretaris Program Studi (Sekprodi) PSI, jajaran dosen PSI, serta 261 mahasiswa PSI.

Dalam sambutannya, Wadek I FPI memberikan apresiasi dan dukungan atas terselenggaranya kegiatan Psychopreneur 2026. 

"Saya mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Psychopreneur 2026, saya merasa bahwa tema MBG sangat relevan dengan generasi Z, serta melalui kegiatan bazar rutin seperti ini, mahasiswa dapat mengembangkan berbagai soft skill, mulai dari jiwa kewirausahaan, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, hingga membangun relasi yang bermanfaat," ujarnya.

Faradila mahasiswa PSI angkatan 2023 yang merupakan peserta bazar mengungkapkan perasaan senang atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Saya merasa sangat senang dengan kegiatan ini, karena disini terdapat banyak bazar yang bisa kita datangi dan kita juga dapat melihat kreativitas dari teman-teman lain,” ungkapnya.

Selanjutnya, Muhamad Latif salah satu mahasiswa PSI angkatan 2023 menyampaikan sarannya terkait dengan waktu persiapan kegiatan, ia menyarankan agar waktu persiapan dapat dilaksanakan dari jauh-jauh hari, sehingga pelaksanaan kegiatan bisa berjalan lebih baik dan lebih lancar lagi.

Rep: Khamarul & Tia
Editor: Byline

Selasa, 19 Mei 2026

GEMAKAN CINTA BAHASA ARAB, HMJ PBA UIN RIL GELAR MAHROJAN ARABIY 2026

[ Berita ]

Sumber: Panitia Mahrojan Arabiy 2026

Raden Intan – Gemakan cinta bahasa Arab, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) gelar Mahrojan Arabiy tahun 2026. (Selasa, 19/05/26).

Mahrojan Arabiy merupakan festival bahasa Arab yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh HMJ PBA dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan Tarbiyah UIN RIL sejak pukul 09.00 WIB s/d selesai, dengan mengusung tema “Dari Bahasa Menuju Peradaban: Menyatukan Seni dan Prestasi dalam Cakrawala Arab."

Kemudian acara ini akan dilaksanakan selama tiga hari yakni dari tanggal 19 s.d. 21 Mei 2026, dengan menghadirkan berbagai macam cabang perlombaan seperti hadroh, khitobah, ghina Arabiy, tilawah Qur’an, dan fashion show.

Turut dihadiri oleh Dr. Heru Juabdin Sada, M.Pd.I., selaku Wakil Dekan (Wadek) III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Damanhuri, M.Pd., selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) PBA, Ustad Ariansyah selaku perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Lampung, Rizki Ardhian selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FTK, Duta Kampus Moderasi Beragama UIN RIL, Duta Hijab Favorite Provinsi Lampung, jajaran dosen, dan civitas akademika UIN RIL, 28 peserta lomba dari kalangan siswa dan mahasiswa, serta 21 tamu undangan.

Dalam sambutannya, Wadek III FTK menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Mahrojan Arabiy 2026, ia menilai bahwa kegiatan ini sangat positif dan berdampak bagi mahasiswa.

“Saya mengapresiasi penyelenggaraan Mahrojan Arabiy 2026, karena kegiatan ini sangat positif dan berdampak bagi mahasiswa. Serta saya juga berharap semoga kegiatan ini berjalan lancar, dan peserta dapat mengikuti kompetisi dengan menjunjung tinggi kejujuran dan etika,” ujarnya.

Novita Anggraini salah satu peserta lomba fashion show dari Madrasah Aliyah (MA) GUPPI Lampung Selatan mengungkapkan alasannya tertarik untuk mengikuti perlombaan Mahrojan Arabiy 2026.

“Saya tertarik untuk mengikuti perlombaan ini karena ingin lebih berani dan percaya diri tampil di depan banyak orang,” ujarnya.

Selanjutnya, Mela Faiza peserta dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) berharap bahwa kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan dengan koordinasi pelaksanaan yang lebih baik.

Rep: Diana & Naila A
Editor: Byline

Rabu, 11 Maret 2026

TELAH TERBIT E-KORAN EDISI FEBRUARI TAHUN 2026

[ E-Koran ]




Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Pers Mahasiswa! ✊🏻

Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat koran dapat diakses dimana saja dan kapan saja melalui internet. Maka dengan itu, UKM PersMa Raden Intan dengan bangga kembali menerbitkan "𝗘-𝗞𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗘𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗜𝗜" tahun 2026.

Baca E-Koran selengkapnya:

#uinradenintan
#persmaradenintan
#gardaidealismemahasiswa

Senin, 09 Maret 2026

UKM BAPINDA ADAKAN RPL SEBAGAI SALAH SATU RANGKAIAN KEGIATAN RDK UIN RIL

[ Berita ]

Sumber: Panitia RDK UIN RIL

Raden Intan – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bidang Pembinaan Dakwah (Bapinda) adakan Ramadan Public Lecute (RPL) sebagai salah satu rangkaian kegiatan Ramadan di Kampus (RDK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL). (Senin, 09/03/26).

Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Ushuluddin UIN RIL sejak pukul 16.00 s.d. selesai, dengan mengusung tema "Ramadan Sebagai Ruang Pulang: Menata Hati dan Belajar Menghargai Perbedaan", yang bertujuan agar kita sebagai umat muslim dapat menjadikan ramadan sebagai tempat pulang untuk menata hati, memperbaiki diri, dan menghargai perbedaan.

Turut dihadiri oleh Dr. Wahyu Iryana, S.Hum., chRMP., selaku pembina UKM Bapinda sekaligus pemateri, serta kurang lebih 40 mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan.

RPL merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara RDK yang diselenggarakan untuk memberikan ruang intelektual dan spiritual bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk memperdalam pemahaman keagamaan selama bulan suci ramadan. Pada kegiatan kali ini UKM Bapinda menyediakan 100 paket takjil gratis bagi peserta yang hadir. 

Dr. Wahyu Iryana, S.Hum., chRMP., dalam penyampaian materinya menjelaskan bahwa sesungguhnya hanya satu tujuan  akhir manusia, yaitu kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. 

"Perjalanan manusia bukanlah kisah yang sederhana. Setiap langkah hidup yang dijalani mengingatkan kita pada asal-usul, pada cinta seorang ibu, dan pada tujuan akhir yaitu pulang kepada Allah dengan hati yang bersih," ujarnya. 

Lutfiya Afaf Roudhatul Jannah salah satu panitia pelaksana mengungkapkan bahwa ia sangat senang dan bersyukur setelah ia mengikuti kegiatan RPL ini. 

"Saya merasa senang dan bersyukur setelah mengikuti kegiatan RPL ini, dari materi yang disampaikan saya akhirnya paham dan menyadari bahwa Allah menciptakan makhluknya dengan berbagai sifat dan perilaku yang berbeda," ungkapnya.

Rep: Grafis & Vale
Editor: Byline

Sabtu, 07 Maret 2026

MERAWAT IMAN TUMBUHKAN KEBERSAMAAN, UKM BAPINDA SELENGGARAKAN GRAND OPENING RDK UIN RIL

[ Berita ] 

Sumber: Otafi


Raden Intan — Merawat iman menumbuhkan kebersamaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bidang Pembinaan Dakwah (Bapinda) selenggarakan Grand Opening (GO) Ramadan Di Kampus (RDK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL). (Kamis, 05/03/26).

Pembukaan ini dilaksanakan di Aula Tarbiyah UIN RIL pada (04/03), sejak pukul 16.00 s.d. selesai dengan mengusung tema "Merawat Iman, Menebar Kebaikan, Menumbuhkan Kebersamaan", yang bertujuan untuk membuat bulan Ramadan di UIN RIL terasa lebih hidup dan memberikan dampak pada mahasiswa umum.  

RDK merupakan kegiatan keagamaan dan sosial dalam menyambut bulan suci Ramadan yang baru pertama kali dilaksanakan oleh UKM Bapinda di tahun ini. Pada pembukaan ini UKM Bapinda melaksanakan buka bersama gratis dengan menyediakan 250 paket takjil dan makanan berat bagi para peserta yang hadir.  

Selain itu, RDK akan dilaksanakan selama delapan hari yakni dari tanggal 03 Maret s.d. 12 Maret 2026, dengan rangkaian kegiatan lainnya yaitu kajian kemuslimahan, berbagi takjil di dalam dan di luar kampus, Ramadan Public Repluaser (RPL), sahur on the road, kunjungan ke panti asuhan, dan grand closing dengan khataman Al-Qur'an.

Turut dihadiri oleh Dr. Wahyu Iriana,S.Hum.,chRMP., selaku pembina UKM Bapinda, M. Bisri Mustofa., S. Kom. I., M. Kom. I., selaku pemateri, serta perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) lingkup UIN RIL, dan 200 mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan.

M. Bisri Mustofa., S. Kom. I., M. Kom. I., dalam penyampaian materinya, turut menekankan bahwa menjadi muslim intelektual tidak hanya tentang kepintaran akademik semata, melainkan juga tentang merawat iman sebagai fondasi spiritualitas.

Muhammad Rifki Auly selaku Ketua Umum (Ketum) UKM Bapinda berharap setelah pembukaan ini dilaksanakan para mahasiswa dapat merasakan keseruan di kampus bersama RDK. 

"Saya berharap mahasiswa-mahasiswa dapat merasakan keseruan Ramadan di UIN RIL, dengan adanya kajian dan kegiatan lainnya yang ada di RDK," ujarnya. 

Putri Anggraini Salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti pembukaan RDK. 

"Saya merasa terkesan dan terinspirasi karena RDK ini menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk memperdalam nilai keimanan dan merasakan kehangatan serta keramaian Ramadan di kampus," ungkapnya.

Rep: Otafi
Editor: Byline

HIDUP DALAM WASPADA, PEREMPUAN DAN ANCAMAN NYATA DI SEKITARNYA

[ Artikel ] 

Sumber: Pinterest


Bagi sebagian perempuan, rasa takut tidak hanya berasal dari pengalaman pribadi saja, tetapi juga hadir dari berbagai kasus kekerasan yang terus terjadi secara berulang dan menjadi konsumsi publik. Berita tentang pelecehan, kekerasan fisik, dan serangan terhadap perempuan menjadi pengingat bahwa ancaman itu nyata, bisa terjadi pada siapa saja, dan dimana saja.

Berdasarkan data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, terdapat 4.472 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan, mencakup kekerasan seksual, kekerasan fisik, hingga kekerasan dalam relasi personal. 

Namun, angka tersebut diyakini hanya mencerminkan sebagian kecil dari realitas yang sebenarnya. Banyak korban memilih untuk tidak melapor karena takut disalahkan, mengalami tekanan sosial, dan berada dalam relasi kuasa yang tidak seimbang dengan pelaku. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan masih hidup dalam bayang-bayang ancaman yang nyata.

Dilansir dari riauonline.co.id, salah satu peristiwa yang saat ini mengguncang publik terjadi dalam kasus pembacokan seorang mahasiswi yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau. Korban diserang oleh rekan satu kampusnya, yang diduga terjadi karena motif asmara dan penolakan. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa ancaman terhadap perempuan dapat terjadi bahkan di lingkungan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi nilai intelektual dan kemanusiaan. 

Kasus kekerasan juga terjadi di lingkungan pendidikan tinggi lainnya. Mengutip dari kompas.com, pada April 2025 lalu, seorang oknum guru besar di Universitas Gadjah Mada (UGM) dilaporkan melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah mahasiswi. Pelaku diduga memanfaatkan posisinya sebagai figur otoritas akademik untuk mendekati dan memanipulasi korban. Kasus ini menyoroti bagaimana relasi kuasa dapat menjadi alat bagi pelaku untuk melakukan kekerasan, sekaligus menunjukkan bahwa institusi pendidikan belum sepenuhnya bebas dari ancaman tersebut. 

Masih dari sumber yang sama, ancaman terhadap perempuan juga terjadi di sektor kesehatan, ruang yang seharusnya memberikan perlindungan dan perawatan. Kasus pelecehan ini dilakukan oleh oknum dokter di Malang pada tahun 2025, dan menjadi pengingat bahwa perempuan bahkan dapat menjadi korban saat berada dalam kondisi paling rentan. Posisi pasien yang lemah secara fisik dan psikologis dimanfaatkan oleh pelaku yang menyalahgunakan kepercayaan dan kewenangannya. 

Tidak hanya di bidang pendidikan dan kesehatan, dunia olahraga pun tidak luput dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Mengutip dari kemenpora.go.id, terdapat laporan mengenai dugaan pelecehan terhadap atlet perempuan di Pelatihan Nasional (Pelatnas) panjat tebing pada periode 2025 s.d. 2026. Laporan mengenai kekerasan fisik dan seksual ini diduga melibatkan oknum pelatih dan pengurus, sehingga memicu intervensi dan evaluasi sistem pembinaan atlet. 

Ironisnya, ancaman terbesar bagi perempuan sering kali datang dari orang terdekat. Laporan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa banyak kekerasan terjadi dalam ranah personal, seperti oleh pasangan, mantan pasangan, atau anggota keluarga. Banyak kasus kekerasan dipicu oleh rasa kepemilikan, kecemburuan, atau penolakan yang tidak diterima pelaku. 

Secara struktural, lemahnya perlindungan terhadap perempuan juga terlihat dari minimnya infrastruktur yang mendukung keamanan. Seperti minimnya pencahayaan di ruang publik, terbatasnya pengawasan CCTV, dan proses pelaporan yang rumit membuat perempuan merasa tidak memiliki perlindungan yang memadai. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem yang ada belum sepenuhnya berpihak pada keamanan dan perlindungan perempuan.

Pada akhirnya, rasa aman adalah hak dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap perempuan, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan sendirian. Tanpa komitmen nyata dari negara, institusi, dan masyarakat untuk melindungi korban dan menindak pelaku secara tegas, maka perempuan akan terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan di ruang yang seharusnya aman.

Karya: Korektif
Editor: Byline

MAHASISWA ANGKATAN 2022 KELUHKAN SKOR TOEFL TIDAK SESUAI, PUSBA UIN RIL BERI TANGGAPAN

[ Berita ] 

Hasil Skor TOEFL Angkatan 2022

Raden Intan — Mahasiswa angkatan 2022 keluhkan skor Test Of English As a Foreign Language (TOEFL) tidak sesuai, Pusat bahasa (Pusba) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) beri tanggapan. (Selasa, 03/03/26).

Pada tanggal 12 Februari 2026 lalu, pihak Pusba UIN RIL mengadakan tes TOEFL gratis bagi mahasiswa angkatan 2022 secara online, dan diikuti oleh 2600 mahasiswa. Tes TOEFL merupakan tes yang wajib dilakukan oleh mahasiswa akhir sebagai salah satu persyaratan sidang munaqosyah. 

Namun, setelah itu muncul isu yang beredar di media sosial terkait dengan keseragaman skor TOEFL yang telah keluar. Dari adanya hasil TOEFL ini, sebagian mahasiswa merasa bahwa tes TOEFL hanya dilakukan sebagai bentuk formalitas saja. Sehingga memicu kegaduhan antara pihak Pusba dengan mahasiswa. 

Terkait hal tersebut, AH salah satu staff Pusba UIN RIL menegaskan bahwa penilaian yang dilakukan telah sesuai dengan standar penilaian Pusba, dan penilaian ini dilakukan oleh pihak ketiga yaitu penyedia layanan tes. 

Ia juga menambahkan bahwa pihak pusba menyediakan layanan verifikasi bagi mahasiswa yang merasa nilai yang ia peroleh tidak sesuai. Kedepannya pihak Pusba tidak akan mengadakan tes TOEFL secara online, tetapi akan diadakan secara offline. 

"Bagi mahasiswa yang tidak setuju dengan nilai yang didapatkan, silahkan untuk datang ke Pusba dan menunjukkan jika memang layak untuk mendapatkan nilai 600, karena pihak Pusba sudah menyediakan layanan terkait hal tersebut," tambahnya. 

B salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Akutansi Syariah (AKS) mengungkapkan kekecewaannya terkait dengan hasil yang ia peroleh. 

"Saya merasa kecewa dengan hasil yang didapatkan, karena ada beberapa mahasiswa yang mengaku mengerjakan soal secara asal-asalan tetapi mendapat nilai yang sama dengan yang lain," ungkapnya. 

MA mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara (HTN) menyampaikan, bahwa menurutnya, kesamaan skor yang dipukul rata lah yang menimbulkan banyak kecurigaan. Sehingga banyak mahasiswa menduga adanya permainan data.

Rep: Angle & Lead

Editor: Byline

PERDANA, UKM BAHASA UIN RIL ADAKAN PELATIHAN SPEAKING TIME WITH CONNECT

[ Berita ]

UKM Bahasa UIN RIL

Raden Intan — Perdana, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) adakan pelatihan Speaking Time with Connect. (Jum'at, 27/02/26).

Pelatihan ini dilaksanakan di gedung Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) sejak pukul 09.00 s.d. selesai, dengan mengusung tema "Speaking Time with Connect," yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris baik bagi pengurus UKM Bahasa maupun mahasiswa umum. 

Kegiatan ini dihadiri oleh Cassie Ann Simmon selaku pemateri dari connect Lampung, pengurus UKM Bahasa, dan 11 peserta lainnya yang berasal dari berbagai jurusan, dengan Harga Tiket Masuk (HTM) Rp 10.000.

Kegiatan ini merupakan program pelatihan yang baru pertama kali diselenggarakan oleh UKM Bahasa pada tahun ini, dengan berfokus pada pelatihan speaking dan telah berjalan selama dua kali pertemuan, serta rencananya akan dilaksanakan secara rutin setiap minggunya. 

Diah Fitri Wulandari selaku Bendahara Umum UKM Bahasa menyampaikan harapannya setelah pelatihan ini dilaksanakan.

"Saya berharap setelah pelatihan ini dilaksanakan, anggota UKM bahasa semakin percaya diri dan berani untuk menyampaikan pendapat serta tampil di depan umum menggunakan bahasa Inggris," ujarnya. 

Anisa Zelsa Ahmad mahasiswa Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), salah satu peserta yang mengikuti pelatihan ini mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti pelatihan. 

"Saya sangat senang sekali mengikuti pelatihan ini, karena konsep yang disampaikan oleh pemateri sangat mudah dipahami terutama untuk pemula," ungkapnya. 

Rep: Brave & Byline 
Editor: Aline

PALANG PARKIR UIN RIL, MODERNISASI SISTEM PARKIR MINIM JAMINAN KEAMANAN?

[ Opini ]

Sumber: RRI.co.id

Penerapan sistem palang parkir otomatis atau parking gate di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) merupakan bagian dari upaya modernisasi tata kelola fasilitas kampus. Mesin parkir digital ini berbasis kartu dan tiket parkir yang diharapkan mampu meningkatkan keamanan dan ketertiban kendaraan di lingkungan kampus. Namun, setelah tiga tahun beroperasi, efektivitasnya layak untuk dievaluasi secara menyeluruh. 

Dilansir dari sumber resmi radenintan.ac.id, sistem palang parkir otomatis mulai diberlakukan sejak 06 November 2023 hingga saat ini, dengan sistem kartu akses atau member card bagi mahasiswa, serta tiket parkir bagi masyarakat umum dengan tarif Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Pengelolaan sistem ini bekerjasama dengan pihak ketiga, yaitu Perseroan Terbatas (PT) Cakra Vira Sakti Indonesia. 

Pada awal penerapannya, sistem ini mendapat respons yang cukup positif. Mahasiswa memperoleh kartu parkir secara gratis sebagai bagian dari fasilitas kampus. Secara konsep, palang parkir berfungsi sebagai sistem kontrol akses yang membatasi kendaraan keluar dan masuk melalui proses verifikasi. Kendaraan yang masuk wajib menggunakan kartu atau tiket parkir, lalu melakukan validasi saat keluar. Mekanisme ini dirancang untuk mencegah kendaraan keluar tanpa izin dan memperkecil potensi kehilangan. 

Dengan sistem pencatatan otomatis tersebut, pengawasan seharusnya menjadi lebih sistematis dan terukur. Sistem digital juga diharapkan mampu menutup celah pengawasan manual yang rentan terhadap kelalaian. Namun, idealitas di atas kertas tidak selalu sejalan dengan kondisi di lapangan.

Dalam praktiknya, berbagai kendala teknis masih sering terjadi. Mesin parkir kerap mengalami error, kartu tidak terbaca, bahkan palang dapat terbuka tanpa kartu. Situasi ini tentu melemahkan sistem pengamanan yang telah dirancang. Jika palang dapat terbuka tanpa verifikasi, maka kontrol menjadi longgar. Celah inilah yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Lebih memprihatinkan lagi, kasus kehilangan sepeda motor masih terjadi meskipun sistem palang parkir telah diterapkan. Mengutip dari berita-public.com, pada tanggal 05 dan 09 November 2024 sepeda motor milik mahasiswi dilaporkan hilang di area kampus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa keberadaan palang parkir belum sepenuhnya mampu menjamin keamanan kendaraan. Kehilangan kendaraan di lingkungan kampus menjadi indikasi bahwa sistem yang ada masih memiliki kelemahan yang perlu segera diperbaiki. 

Menurut saya, tiga tahun merupakan waktu yang cukup untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem palang parkir yang telah berjalan. Pihak kampus perlu melakukan audit secara serius dan menyeluruh, baik dari sisi teknis seperti kondisi mesin, sensor, dan sistem verifikasi, maupun dari sisi manajerial seperti pengawasan, perawatan rutin, dan kinerja pihak pengelola. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa sistem benar-benar berfungsi dan berjalan sesuai dengan tujuan awal. 

Evaluasi juga harus dilakukan secara transparan dan berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, termasuk keluhan mahasiswa dan kasus kehilangan kendaraan. Tanpa langkah perbaikan yang konkret, sistem yang dirancang untuk meningkatkan keamanan justru beresiko menimbulkan ketidakpercayaan. 

Jika ditemukan kelemahan, maka pembaruan perangkat dan peningkatan standar keamanan harus segera dilakukan. Memperbaiki sistem secara terbuka jauh lebih penting daripada sekedar mempertahankan citra modern tanpa memberikan perlindungan nyata. 

Pada akhirnya, kebijakan palang parkir otomatis harus diimbangi dengan kualitas layanan yang maksimal. Keamanan parkir bukan sekedar fasilitas tambahan, ia merupakan bagian dari tanggungjawab institusi  dalam melindungi seluruh civitas akademika. Tanpa efektivitas yang nyata, palang parkir hanya akan menjadi simbol modernisasi tanpa fungsi yang benar-benar dirasakan. 

Karya: Akurasi
Editor: Byline

DUA JALAN DALAM SATU RAMADAN

[ Cerpen ] 

Sumber: Artificial intelligence

Ramadan datang bersama dengan suara azan yang merambat dari masjid ke masjid, dan wajah-wajah yang berusaha lebih sabar dari biasanya. Di sebuah kampung bernama Kampung Asri, masyarakat mengenal dua macam puasa. Mereka menyebutnya dengan “puasa ular” dan “puasa ulat”.

Di Kampung Asri tinggal seorang remaja berusia lima belas tahun bernama Naufal. Ia pertama kali mendengar istilah tersebut dari kakeknya, Kakek Solah. Suatu sore menjelang magrib, ketika langit berwarna jingga dan aroma gorengan mulai menyeruak dari dapur-dapur rumah, sang kakek berkata kepadanya, “Kalau kamu puasa, kamu bisa menjadi ular atau menjadi ulat.”

Naufal yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar mengernyitkan dahi. “Apa bedanya, Kek?”

"Ular itu menahan lapar lama sekali. Ia diam, tidak bergerak, seolah tidak membutuhkan apa-apa. Tapi ketika waktunya tiba, ia bisa mematuk dengan cepat. Sedangkan ulat, ia makan sedikit demi sedikit, lalu mengurung diri dalam kepompong. Ia sabar, dan dari kesabarannya lahir perubahan.” Saat itu Naufal hanya mengangguk, belum benar-benar memahami maknanya. Kata-kata itu hanya singgah sebentar, lalu tenggelam bersama waktu. 

Namun, Ramadan tahun ini membuatnya mengingat kembali perkataan kakek. Di sekolah, Naufal dikenal sebagai siswa yang cerdas. Namun, ia juga mudah tersinggung. Pada hari ketiga puasa, seorang teman sekelasnya, Rendi, menuduhnya menyontek saat ujian sebelum Ramadan. Tuduhan itu menyebar cepat, seperti api yang menyambar dedaunan kering. Padahal Naufal tahu dirinya tidak bersalah.

Amarahnya membuncah, ia ingin membalas. Ia menyimpan beberapa rahasia Rendi yang bisa saja ia ungkap di depan teman-teman. Hanya dengan satu kalimat, ia bisa membuat Rendi dipermalukan. Sepanjang siang, haus dan amarah bercampur menjadi satu, terasa kering di tenggorokan dan panas di dada.

Sore itu, di beranda rumah yang mulai redup oleh cahaya senja, ia menceritakan semuanya kepada Kakek. “Kalau aku diam saja, orang-orang akan percaya aku bersalah,” katanya geram. Kakek Solah tersenyum tipis. “Sekarang kamu sedang diuji. Kamu ingin menjadi ular, atau menjadi ulat?” Naufal terdiam. 

Ingatannya melayang pada percakapan bertahun-tahun lalu. “Menjadi ular,” lanjut sang kakek pelan, “adalah ketika kamu menahan amarah. Kamu bisa saja mematuk, tetapi kamu memilih untuk menggulung diri. Kamu menyimpan bisa di dalam tubuhmu, itu berat.” 

“Lalu menjadi ulat?” tanya Naufal, kini lebih sungguh-sungguh.

“Menjadi ulat bukan hanya menahan diri, tetapi juga memperbaiki diri. Kamu gunakan luka itu untuk bertumbuh. Seperti ulat yang sabar dalam kepompong, hingga akhirnya menjadi kupu-kupu.” 

Malamnya, setelah salat tarawih, Naufal duduk lebih lama di saf paling belakang. Imam membaca ayat tentang menahan amarah dan memaafkan manusia. Suaranya tenang, namun terasa menyentuh bagian terdalam hatinya. Naufal menunduk, ia sadar bahwa selama ini ia hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi belum sepenuhnya menahan amarah. 

Keesokan harinya, Rendi kembali menyindirnya di depan teman-teman. Naufal menatapnya lama, ia tahu satu kalimat saja cukup untuk menjatuhkan Rendi. Rahasia itu sudah berada di ujung lidahnya. Namun, ia memilih diam. Itulah puasa ular, menahan bisa meski mampu mematuk.

Hari-hari berikutnya, Naufal mulai berubah. Ia belajar lebih tekun, membantu teman-teman yang kesulitan memahami pelajaran, dan membantu guru merapikan buku-buku di ruang kelas. Ia tidak ingin sekadar membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi ia juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah puasa ulat, mengubah luka menjadi proses bertumbuh.

Suatu siang, guru memanggilnya dan mengatakan bahwa ia tidak menyontek. Naufal tersenyum, bukan senyum kemenangan, melainkan senyum lega. Beberapa hari kemudian, Rendi menghampirinya di masjid sekolah dan meminta maaf. Naufal mengangguk. Tidak ada amarah yang tersisa, yang ada hanya ketenangan. Ia menyadari bahwa kemenangan terbesarnya bukan pada pembuktian, melainkan pada kemampuannya menahan diri.

Malam kedua puluh tujuh Ramadan, ketika langit terasa lebih sunyi dan doa-doa lebih panjang, Naufal duduk di samping kakeknya. Ia berkata bahwa kini ia mengerti, puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga tentang memilih untuk menahan amarah dan bersabar untuk berubah menjadi lebih kuat. Ramadan hampir berakhir, tetapi pelajaran tentang puasa ular dan puasa ulat tinggal lebih lama, mengajarkannya menahan diri, memaafkan, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Karya: Diah
Editor: Byline

KETUA DPRD LAMPUNG TEMUI MASSA AKSI, AKAN SAMPAIKAN ASPIRASI KE PEMERINTAH

[ Berita ] 

Sumbee: LPM Republica FISIP Unila

Raden Intan — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung temui massa aksi, dan berjanji akan sampaikan aspirasi ke pemerintah. (Senin, 23/02/26).

Aksi ini berlangsung di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung sejak pukul 11.00 WIB s.d. selesai, dengan mengusung tagline "Gelap Gulita Pendidikan Indonesia", dengan tujuan untuk menolak kebijakan pendidikan yang dianggap memberatkan dan menimbulkan ketidakpastian nasib bagi tenaga pendidik (tendik) serta peserta didik. 

Aksi ini diikuti oleh Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND) Bandar Lampung, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (UNILA), ⁠BEM Darmajaya, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), serta diikuti oleh kurang lebih 80 massa aksi yang berasal dari perguruan tinggi se-Lampung dan berbagai elemen masyarakat. 

Kemudian, untuk menanggapi keresahan para demonstran dengan berdialog, aksi ini turut dihadiri juga oleh Ahmad Giri Akbar, S.E., M.B.A., selaku ketua DPRD Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP, M.H., selaku Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Dr.H. Yanuar Irawan,S.E.,M., selaku ketua Komisi V DPRD Provinsi Lampung bidang pendidikan. 

Para massa aksi membawa 6 tuntutan, di antaranya:

1. Menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama kebijakan negara.

2. Mewujudkan pendidikan gratis.

3. Menambah anggaran pendidikan.

4. Meningkatkan kesejahteraan guru honorer.

5. Memindahkan siswa SMA Siger ke sekolah yang memiliki legalitas dengan jaminan beasiswa.

6. Mendorong regulasi pajak progresif untuk dialokasikan sebagai anggaran pendidikan.

Aksi ini direspon baik oleh Ketua DPRD Provinsi Lampung. Dalam dialognya bersama para demonstran, ia mengatakan bahwa seluruh aspirasi akan disampaikan ke pemerintah.

"Kami menerima aspirasi dari teman-teman semua, yang nantinya akan kami kawal serta sampaikan kepada pemerintah Provinsi Lampung," ujarnya. 

Aditya Putra Bayu selaku ketua BEM UNILA, menegaskan bahwa aksi kali ini berfokus pada sektor pendidikan.

"Aksi kami hari ini berfokus pada isu-isu pendidikan yang ada di Provinsi Lampung, dan kami akan terus mengawal isu pendidikan baik yang ada di Lampung maupun di pemerintah pusat," ungkapnya.

Reporter: Angle

Editor: Byline

DUTA UIN RIL JALANKAN PERAN REPRESENTATIF KAMPUS LEWAT PROGRAM GOES TO SCHOOL

[ Berita ]

Sumber: Duta Raden Intan

Raden Intan — Duta Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) jalankan peran representatif kampus lewat program Goes to School. (Kamis/19/02/26).

Duta Kampus UIN RIL Goes to School merupakan program Hubungan Masyarakat (Humas) UIN RIL dalam misi memperkenalkan UIN RIL kepada siswa-siswi yang berada di setiap sekolah pada daerah-daerah tertentu.

Program ini dilaksanakan secara terjadwal dan terkoordinasi dengan pihak sekolah, menyesuaikan acara serta kegiatan yang dirancang oleh pihak sekolah. Sistem program ini fleksibel, namun tetap memiliki target kunjungan agar promosi merata.

Sekolah-sekolah yang sudah dikunjungi di antaranya adalah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Punggur pada (08/01), SMAN 3 Metro (20/01), SMAN 2 Metro (22/01), SMAN 1 Tulang Bawang Tengah (22/01), dan masih akan terus berlanjut mengunjungi beberapa sekolah lainnya yang ada di provinsi Lampung. 

Saffanatuz Zahidah selaku Duta Raden Intan Putri 2024, mengungkapkan bahwa kegiatan Duta UIN RIL ketika melakukan kunjungan adalah memperkenalkan keunggulan UIN RIL, fakultas dan program studi (prodi), jalur masuk kampus, informasi beasiswa, kegiatan organisasi serta prestasi mahasiswa di dalamnya. 

Ia juga turut menyampaikan bahwa para siswa-siswi menyambut antusias kedatangan mereka.

"Respon siswa dan siswi sangat antusias. Mereka sangat aktif dan responsif, banyak juga yang menunjukkan ketertarikan setelah mengetahui berbagai fasilitas dan program beasiswa di UIN RIL," tambahnya.

Yohan Ardiansyah selaku Duta Raden Intan Integrasi Putra 2024 menyampaikan harapannya terkait dilaksanakannya program ini.

"Harapannya, semoga setelah diadakannya program Goes to School oleh Duta Raden Intan semakin banyak siswa yang berminat untuk melanjutkan pendidikan di UIN RIL," ujarnya.

Reporter: Aline & Byline
Editor: Novel

IMLEK MENYAPA RAMADAN MENANTI, POTRET NYATA KEBERAGAMAN BANGSA

[ Artikel ]

Sumber: Artifical Intelligence

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman agama, budaya, dan tradisi. Keberagaman tersebut tidak hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga menunjukkan bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dalam harmoni. Salah satu potret nyata terlihat dalam momentum perayaan keagamaan tahun 2026, ketika Tahun Baru Imlek bagi umat Konghucu berlangsung hampir bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadan bagi umat Islam. 

Dilansir dari kompas.com, Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada tanggal 17 Februari 2026, sementara awal Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan dimulai pada 18 atau 19 Februari 2026. Kedekatan waktu ini menghadirkan momentum langka yang memperlihatkan kuatnya nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat.

Momentum ini menjadi simbol pertemuan dua cahaya spiritual dalam dekapan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang, melainkan kesempatan untuk saling toleransi dengan menghormati, memahami, dan merayakannya dengan kasih sayang. 

Pertemuan dua perayaan besar ini juga menunjukkan adanya kesamaan nilai spiritual. Mengutip dari detik.com, ajaran Konghucu memandang Imlek sebagai momentum refleksi diri, ungkapan rasa syukur, serta penguatan hubungan keluarga. Menjelang tahun baru, umat diajak merenungkan perjalanan hidup, memperbaiki diri, serta mempererat ikatan dengan keluarga dan sesama. Tradisi berkumpul bersama keluarga menjadi bagian penting dalam perayaan ini sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Nilai yang serupa juga tercermin dalam ibadah Ramadan. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183 –185, umat Islam diperintahkan untuk berpuasa sebagai sarana meningkatkan ketakwaan. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana pengendalian diri, refleksi spiritual, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Ramadan juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial melalui kegiatan berbagi, sedekah, dan kebersamaan dalam ibadah.

Melansir dari antaranews.com, kedekatan waktu antara Imlek dan Ramadan direspons positif oleh pemerintah melalui Festival Imlek Nasional Tahun 2026 yang berlangsung pada tanggal 17 Februari hingga 3 Maret 2026 di Jakarta. Festival ini hadir sebagai ruang bersama yang menekankan inklusivitas, keberagaman, dan harmoni antarumat beragama. Panitia penyelenggara juga menyesuaikan kegiatan dengan suasana Ramadan, seperti menghadirkan buka puasa bersama dan menyediakan ruang ibadah tarawih, sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang menjalankan puasa.

Kesamaan nilai antara Imlek dan Ramadan menunjukkan bahwa meskipun berasal dari tradisi dan keyakinan yang berbeda, keduanya memiliki esensi yang selaras, yaitu refleksi diri, penguatan hubungan keluarga, kepedulian sosial, serta perbaikan spiritual. Nilai-nilai ini menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan dalam satu harmoni kehidupan bersama.

Momen berdampingannya Imlek dan Ramadan menjadi pengingat penting bahwa toleransi bukan sekadar konsep, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tidak memisahkan masyarakat, melainkan memperkaya kehidupan sosial dan memperkuat persatuan. Pertemuan dua perayaan ini menjadi simbol bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa, dan melalui sikap saling menghormati, masyarakat Indonesia mampu menjaga harmoni, persatuan, serta kedamaian bersama.

Karya: Pretail
Editor: Byline

MINIMNYA RUANG TERBUKA HIJAU DI BANDAR LAMPUNG, MAHASISWA KEHILANGAN RUANG PUBLIK GRATIS

[ Opini ] 

Sumber: theconversation.com


Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang atau jalur yang didominasi tumbuhan, baik yang tumbuh alami maupun sengaja ditanam. RTH berfungsi sebagai paru-paru kota, area resapan air, serta ruang rekreasi publik. Keberadaan RTH menjadi sangat penting, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Namun, di tengah pesatnya pembangunan, urbanisasi, dan perubahan iklim, RTH justru kerap dikesampingkan.

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandar Lampung tahun 2021–2040 yang mengutip dari Teraslampung.com, persentase ruang terbuka hijau di kota ini hanya mencapai 2,39 persen dari total luas wilayah. Angka tersebut sangat jauh dari standar minimal 30 persen yang telah ditetapkan undang-undang. Padahal, sebagai ibu kota Provinsi Lampung, Bandar Lampung seharusnya mampu menjadi contoh pembangunan kota yang seimbang antara pertumbuhan infrastruktur dan kelestarian lingkungan.

Dilansir dari lampungsuara.com, RTH publik di Bandar Lampung yang dapat diakses secara gratis meliputi beberapa taman kota dan lapangan seperti Taman Gajah, Hutan Kota Way Halim, Taman Kalpataru, dan Lapangan Saburai, yang merupakan fasilitas milik pemerintah dan terbuka untuk umum tanpa biaya. Namun, beberapa kawasan hijau lain yang populer seperti Lembah Hijau dan Puncak Mas merupakan tempat wisata komersial yang berbayar, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai RTH publik gratis. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Bandar Lampung memiliki sejumlah ruang hijau, ketersediaan RTH gratis masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Menurut pendapat saya, kondisi ini tetap belum efektif. Hal ini karena untuk memanfaatkan RTH di tempat-tempat tersebut, masyarakat harus membayar tiket masuk. Dengan demikian, aksesnya tidak jauh berbeda dengan ruang komersial seperti kafe yang juga memerlukan biaya. Sementara itu, di kota-kota besar lain, bukan hal yang sulit untuk menemukan RTH gratis dengan fasilitas yang memadai. Mahasiswa tidak memerlukan fasilitas yang mahal, tetapi cukup ruang yang nyaman untuk duduk dan menyelesaikan pekerjaan akademik.

Narasumber yang telah saya wawancarai juga mengungkap keresahannya terkait hal tersebut. Ia mengatakan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Ia mengaku telah merasakan dampak dari minimnya ruang hijau, seperti banjir yang semakin sering terjadi, kualitas udara yang kurang baik, serta lingkungan yang terasa semakin panas dan tidak nyaman. Menurutnya, RTH bukan hanya kebutuhan ekologis, tetapi juga kebutuhan sosial bagi masyarakat kota.

Akibatnya, banyak mahasiswa terpaksa memanfaatkan ruang komersial seperti kafe, yang tentu membutuhkan biaya tambahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan RTH secara tidak langsung membatasi akses mahasiswa terhadap ruang publik yang inklusif.

Fenomena ini terlihat jelas di Bandar Lampung, terutama menjelang pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau masa sibuk perkuliahan, ketika kafe-kafe dipenuhi mahasiswa yang berdiskusi dan mengerjakan tugas. Pemandangan tersebut seolah dianggap wajar, padahal itu menunjukkan minimnya ruang publik yang dapat diakses tanpa biaya. Alih-alih belajar di taman atau ruang terbuka hijau, mahasiswa justru terpaksa memesan makanan dan minuman demi mendapatkan tempat duduk. 

Mirisnya, kafe perlahan berubah fungsi menjadi “ruang belajar alternatif”. Mahasiswa terpaksa memesan makanan atau minuman hanya demi mendapatkan tempat duduk dan akses fasilitas. Padahal, yang mereka butuhkan sesungguhnya bukanlah ruang komersial, melainkan ruang terbuka yang teduh, aman, dan bebas diakses untuk berkumpul serta bertukar gagasan. Jika ruang terbuka hijau tersedia secara memadai, kebutuhan sederhana itu semestinya dapat terpenuhi tanpa harus mengeluarkan uang. 

Oleh karena itu, Pemerintah Daerah (Pemda) perlu menunjukkan komitmen yang lebih serius dalam meningkatkan ketersediaan RTH. Penyediaan taman kota yang dapat diakses secara gratis, terawat, dan ramah bagi seluruh kalangan, termasuk mahasiswa, merupakan langkah penting dalam menciptakan kota yang berkelanjutan.

Karya: Grafis
Editor: Byline

UKM PERSMA RI RESMI KUKUHKAN PENGURUS BARU PERIODE 2025/2026

[ Berita ] 

Sumber: Rinaila


Raden Intan – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Raden Intan (PersMa RI) resmi mengukuhkan pengurus baru periode 2025/2026. (Jum'at 13/02/26)

Pengukuhan ini dipandu oleh Anis Handayani, S.Ag., M.Sos., selaku pembina UKM PersMa RI di Gedung Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL).

Tak hanya memandu pengukuhan, Pembina UKM PersMa RI juga menjadi Pemateri dalam Orientasi Pengurus (Opus) setelah pengurus resmi dikukuhkan.

Muhammad Iqbal Wahyu Anuari selaku Pemimpin Umum (Pemum) terpilih periode 2025/2026, menyampaikan harapannya untuk kepengurusan baru. 

"Harapannya, kepengurusan baru ini dapat memperbaiki hal-hal yang kurang dari pengurus sebelumnya, dan program kerja yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik," ujarnya.

Nadia selaku tamu undangan dari UKM BAPINDA (Bidang Pembinaan Dakwah) mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti acara ini. 

"Saya merasa acara pengukuhan ini berjalan dengan sakral dan saya dapat melihat bahwa hubungan UKM PersMa RI dengan organisasi lain berjalan dengan baik,"

Reporter: Milya
Editor: Byline

REGENERASI KEPEMIMPINAN, UKM PERSMA RI ADAKAN SERTIJAB, OPUS, DAN RAKER

[ Berita ] 

Sumber: Content


Raden Intan – Regenerasi kepemimpinan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Raden Intan (PersMa RI) adakan Serah Terima Jabatan (Sertijab), Orientasi Pengurus (Opus), dan Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026. (Jum'at, 13/02/26).

Kegiatan ini berlangsung pukul 08.00 s.d. selesai di Gedung Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), dengan mengusung tema “Regenerasi Kepemimpinan sebagai Upaya untuk Menjaga Integritas dan Profesionalisme Pers Mahasiswa Raden Intan”.

Turut dihadiri oleh Anis Hadayani, S.Ag., M.Sos., selaku pembina UKM PersMa RI, Trian Dara Ega Febrina selaku Staf Ahli UKM PersMa RI, perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) lingkup UIN RIL, Perwakilan Aliansi Pers Mahasiswa Lampung (APML), Demisioner, dan 28 Pengurus baru UKM PersMa RI. 

Dalam sambutannya, Pembina UKM PersMa RI menyampaikan bahwa regenerasi bukan hanya sekedar pergantian struktur diatas kertas, tetapi merupakan bentuk transfer nilai dan idealisme. 

"Menurut saya, regenerasi bukan hanya sekedar pergantian struktur diatas kertas, tetapi ini adalah bentuk transfer nilai, idealisme, perpindahan tanggung jawab yang tidak hanya mewarisi jabatan, tetapi juga mewarisi semangat," ucapnya.

Doni Anugrah selaku ketua pelaksana dalam laporannya menyampaikan harapannya untuk kepengurusan baru. 

"Saya berharap kepengurusan baru UKM PersMa RI lebih berkembang dan terus menegakkan keadilan baik didalam kampus maupun di luar, " ungkapnya. 

Reporter: Nutgraf
Editor: Byline

WUJUDKAN AKTUALISASI KURIKULUM PANCA CINTA, PSR KE-35 RESMI DISELENGGARAKAN

[ Berita ]

Sumber: Wantal

Raden Intan — Mewujudkan kurikulum Panca Cinta, Perkemahan Songsong Ramadhan (PSR) ke-35 resmi diselenggarakan. (Selasa, 10/02/26).

PSR sendiri merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Praja Muda Karana (Pramuka) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), dengan tujuan membangun dan melatih kepercayaan antar peserta terkait kepramukaan. 

Pada tahun ini, PSR mengusung tema “Aktualisasi Kurikulum Panca Cinta Melalui Perkemahan Songsong Ramadhan Ke-35”. Panca Cinta sendiri berarti 5 nilai utama yaitu cinta kepada Allah, cinta ilmu pengetahuan, cinta diri sendiri dan sesama, cinta alam dan cinta tanah air.

Perkemahan ini berlangsung selama lima hari, yakni dari tanggal 09 Februari s.d. 14 Februari, yang berlokasi di Bumi Perkemahan UIN RIL. Kegiatan ini menghadirkan beberapa perlombaan tingkat nasional, di antaranya lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB), Syahril Qur’an, pentas seni, kaligrafi kontemporer, desain grafis, karya tulis ilmiah, vlog competition, kreasi tenda panggung, karnaval, dan lomba cipta menu buka puasa.

Turut dihadiri oleh Thomas Amirico, S.STP., M.H., selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag., selaku Wakil Rektor (Warek) III UIN RIL bidang kemahasiswaan dan kerja sama, Dr. Hj. Surlan, M.Ag., selaku Pembina UKM Pramuka UIN RIL, jajaran civitas akademika UIN RIL, serta diikuti oleh 700 peserta dari seluruh sekolah dan universitas di Indonesia.

Acara ini dibuka langsung oleh Gubernur Lampung yang diwakili oleh Kadisdikbud Provinsi Lampung.

Dalam sambutannya, Kadisdikbud Provinsi Lampung berharap dengan adanya kegiatan ini para peserta dapat memperluas tali persaudaraan dan menambah wawasan.

“Saya berharap melalui perkemahan ini dapat menjadi wadah bagi para peserta untuk memperluas tali persaudaraan, menambah wawasan, menguatkan jiwa kepemimpinan, dan persatuan antar Pramuka seluruh Indonesia,” harapnya.

Maulana Yusuf, salah satu peserta dari pangkalan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Bandar Lampung, mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti pembukaan PSR ke-35.

“Saya merasa bersemangat untuk turut serta mengikuti perlombaan yang ada, meraih prestasi, serta menambah pengetahuan melalui perkemahan ini,” ungkapnya.

Rep: Otafi & Wantal
Editor: Byline

UKM PRAMUKA UIN RIL GELAR UPACARA ADAT PADA PSR KE-35 TAHUN 2026

[ Berita ] 

Sumber: Otafi

Raden Intan – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Praja Muda Karana (Pramuka) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) gelar upacara adat pada kegiatan Perkemahan Song-song Ramadhan (PSR) ke-35 Tahun 2026. (Senin, 09/02/26)

Upacara adat dilakukan pada pukul 16.00 WIB s.d. selesai di Bumi Perkemahan UIN RIL. Upacara adat ini diadakan dengan tujuan untuk mempererat silahturahmi antar peserta.  

Sebagai bentuk pembukaan kegiatan PSR secara adat dan penerimaan tamu Racana, kegiatan diawali dengan penyampaian pantun berbahasa Lampung. Kemudian dilanjut dengan penyerahan simbolik berupa pemakaian siger Lampung dan kopiah adat Lampung sebagai tanda simbolis pembukaan acara adat yang diserahkan oleh pemangku adat Racana kepada peserta.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Rip Daliansyah selaku Pemangku Adat Racana Putra, Siti Nurul Rohmah selaku Pemangku Adat Racana Putri, Aditya Pratama Putra selaku Pemangku Adat Kegiatan Putra, dan Eliyta Egistiana selaku Pemangku Adat Kegiatan Putri, serta diikuti oleh 700 peserta yang terdiri dari 32 pangkalan penegak dan 60 pangkalan pandega dari seluruh sekolah dan universitas di Indonesia.

Dina Saudiah selaku sekretaris pelaksana berharap dengan dilaksanakannya upacara adat ini para peserta dapat saling mengenal dan menambah pengalaman. 

"Harapannya, semoga para peserta lebih mengenal satu sama lain dan belajar bersama untuk mencari pengalaman serta dapat mempererat silahturahmi antar gugus," ucapnya.

Muhammad Vandy Al-Aziz salah satu peserta dari pangkalan Universitas Ma'arif Lampung (UMALA) mengungkapkan perasaan senangnya setelah mengikuti upacara adat. 

"Saya merasa senang setelah mengikuti upacara adat, karena dengan adanya kegiatan ini kami bisa saling mengenal budaya dan keberagaman dari masing-masing daerah," ungkapnya. 

Rep: Akurasi & Otafi
Editor: Byline

KETIKA GAJI GURU HONORER TAK SEMANIS PROGRAM MAKAN GRATIS

[ Opini ]

Sumber: Pinterest

Perbedaan kebijakan dalam sektor pelayanan publik sering kali memunculkan perbandingan antarprofesi yang tajam. Salah satu yang belakangan menjadi perhatian adalah kontras antara guru honorer dan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama terkait penghasilan dan status kepegawaian. Kedua aspek ini krusial karena tidak hanya menentukan kesejahteraan, tetapi juga kepastian kerja dan keberlanjutan karier mereka di masa depan.

Melansir dari detik.com, isu pengangkatan sejumlah tenaga non-aparatur sipil negara (non-ASN) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) memang kembali ramai diperbincangkan publik. Kabar tersebut mencuat di tengah perhatian luas terhadap nasib tenaga honorer di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga layanan publik lainnya. Namun, di tengah riuh rendah perbincangan tersebut, muncul informasi yang menyebut pegawai SPPG akan diangkat menjadi PPPK.

Kepastian ini memiliki landasan regulasi yang kuat. Berdasarkan sumber dari hukumonline.com, terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada November 2025 lalu hadir untuk mengisi kekosongan payung hukum. Menariknya, Pasal 17 Perpres tersebut mengatur ketentuan bahwa pegawai yang terlibat dalam MBG atau yang dikenal sebagai SPPG dapat diangkat sebagai PPPK sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Meski demikian, implementasi aturan ini memiliki batasan tertentu. Berdasarkan Siaran Pers Nomor SIPERS-19/BGN/01/2026, Badan Gizi Nasional (BGN) menerangkan bahwa ketentuan pengangkatan PPPK dalam Program MBG tidak berlaku bagi seluruh personel. Nanik S. Deyang, Wakil Kepala BGN, menjelaskan bahwa frasa “pegawai SPPG” merujuk secara spesifik pada pegawai inti dengan fungsi strategis seperti Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan bukan seluruh personel yang terlibat dalam operasional harian SPPG.

Namun, menurut saya hal ini tetap saja menciptakan standar baru dalam penataan tenaga honorer.

Ketimpangan semakin nyata jika kita membandingkan realita di lapangan. Berdasarkan laman kompasiana.com, petugas MBG yang bertugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan mendapatkan gaji yang relatif layak, bahkan di beberapa daerah mendekati Upah Minimum Regional (UMR). Sementara itu, guru honorer yang memegang peran krusial dalam mencerdaskan kehidupan bangsa justru masih menerima upah jauh di bawah standar kelayakan hidup. Ironi ini terasa tajam mengingat beban kerja guru tidaklah ringan, mulai dari administrasi pembelajaran hingga bimbingan siswa.

​Mengacu pada tulisan riaupos.co, selisih gaji keduanya bahkan disebut dapat mencapai hingga Rp4 juta per bulan. Di banyak daerah, honor yang diterima guru honorer kerap berada di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), dengan kisaran Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta saja. Besaran tersebut tentu tidak mencerminkan tanggung jawab besar seorang pendidik yang menjalankan proses belajar mengajar secara penuh setiap harinya.

Dalam pandangan saya, bukan hal yang problematis jika pemerintah ingin menyejahterakan pegawai SPPG. Namun, kebijakan tersebut akan menjadi sangat timpang jika pemerintah mengesampingkan profesi guru honorer yang selama ini memegang peranan vital dalam pembangunan bangsa. Karena menjadi seorang guru bukan sekadar profesi administratif, melainkan profesi yang merancang peradaban. Orang-orang hebat yang saat ini ada, dari pemimpin hingga tenaga profesional, tidak lahir tanpa peran seorang guru sebagai fondasi awal.

​Ketika negara mampu mengalokasikan anggaran untuk sektor lain tetapi lalai memperjuangkan hak guru honorer, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar masalah keadilan, melainkan masa depan pendidikan itu sendiri. Mengabaikan kesejahteraan guru berarti mempertaruhkan kualitas generasi penerus dan, pada akhirnya, meruntuhkan fondasi peradaban bangsa yang ingin kita bangun melalui gizi yang baik.

Rep: Aline
Editor: Novel

Rabu, 04 Februari 2026

WACANA PILKADA MELALUI DPRD KEMBALI MUNCUL, EFISIENSI ANGGARAN JADI ALASAN

[ Artikel ] 

Sumber: rmoljabar.id

Beberapa waktu lalu, beredar wacana tentang penghapusan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung oleh rakyat. Skema yang ditawarkan ialah mengembalikan pemilihan wali kota, gubernur, dan bupati kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Isu ini segera memunculkan perdebatan karena menyentuh inti demokrasi, yakni hak warga negara untuk menentukan pemimpinnya sendiri.

Berdasarkan laman resmi dari news.detik.com, sejumlah partai besar anggota koalisi pemerintah seperti Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) secara terbuka menyatakan persetujuan terhadap mekanisme Pilkada melalui DPRD. Alasan yang kerap dikemukakan adalah tingginya biaya politik melalui Pilkada langsung. Sementara itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi satu-satunya partai besar yang menolak wacana tersebut, serta Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang belum mengambil keputusan menerima atau menolak terkait wacana Pilkada ini.

Namun, suara elite politik tidak sepenuhnya sejalan dengan kehendak publik. Mengutip dari kompas.com, survei Penelitian dan Pengembangan Kompas menunjukkan bahwa 77,3 persen responden menolak Pilkada melalui DPRD, sementara hanya 5,6 persen lainnya menyatakan setuju. Data ini menegaskan bahwa mayoritas masyarakat masih menginginkan keterlibatan langsung dalam memilih pemimpin daerah. Artinya, persoalan ini bukan sekadar teknis pemerintahan, melainkan menyangkut kepercayaan rakyat terhadap kekuasaan.

Wacana ini pertama kali dilontarkan oleh Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, pada Juli 2025 dan diperkuat oleh Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, pada Desember 2025. Presiden Prabowo Subianto turut memberi sinyal dukungan yang kemudian diikuti Partai Gerindra. Para pendukung menilai bahwa Pilkada melalui DPRD lebih efisien karena dapat menekan pemborosan anggaran, mengurangi konflik sosial, serta meminimalkan praktik politik uang dalam pemilihan langsung.

Melalui kanal YouTube Harian Kompas, argumen efisiensi kembali ditegaskan. Pilkada langsung dianggap dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat serta menelan biaya besar, baik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun dari dana pribadi para calon. Sedangkan Pilkada melalui DPRD disinyalir dapat menghemat anggaran negara, menekan biaya politik, serta meminimalkan konflik. 

Kemudian dikutip dari kbr.id, dalam konferensi persnya di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa (06/01/26), Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto menilai adanya desakan beberapa pihak untuk melakukan pemilihan kepala daerah melalui DPRD adalah satu tindakan politik yang menghilangkan dan mencederai hak konstitusi rakyat di dalam memilih pemimpin. Ia juga menegaskan, adanya ide dan gagasan dari pemerintah yang mengupayakan lahirnya Pilkada melalui DPRD merupakan suatu kemunduran dari proses demokrasi Pancasila.

Persoalan ini juga bertentangan dengan prinsip konstitusional. Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyatakan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD.” Pilkada langsung merupakan salah satu wujud konkret dari kedaulatan tersebut. Menghilangkan partisipasi rakyat dalam memilih kepala daerah berarti mengubah relasi kekuasaan dari rakyat ke elite politik, yang pada akhirnya melemahkan kontrol publik terhadap pemerintahan daerah.

Dari sisi praktik, Pilkada melalui DPRD juga tidak otomatis menutup celah politik uang. Pakar Hukum Pemilu Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Andina Elok Puri Maharani, S.H., M.H., menilai mekanisme ini hanya memindahkan transaksi dari ruang publik ke ruang elite. Politik uang tidak hilang, melainkan berubah menjadi lebih tertutup dan sulit diawasi karena hanya melibatkan beberapa elite di parlemen daerah.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fakuktas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gajah Mada (UGM), Dr. Mada Sukmajati. Berdasarkan laman resmi ugm.ac.id, ia menilai bahwa Pilkada yang dilakukan melalui DPRD berpotensi memperkuat dominasi elite dan kesepakatan tertutup antar partai. Kompetisi menjadi sempit, akses calon independen kian terbatas, dan kekuasaan terkonsentrasi di tangan elite partai. Akibatnya, rakyat kehilangan ruang kontrol terhadap proses pengambilan keputusan publik.

Berdasarkan sumber blitar.bawaslu.go.id, Indonesia pernah menerapkan sistem Pilkada tidak langsung sebelum era reformasi hingga tahun 2005. Pada masa itu, kepala daerah dipilih melalui mekanisme voting di DPRD. Sistem ini kemudian berubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat sejak diberlakukannya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Perubahan mendasar ini merupakan bagian dari semangat demokratisasi yang memberikan kedaulatan penuh kepada rakyat dalam menentukan pemimpinnya. Oleh karena itu, jika persoalan utama Pilkada langsung adalah biaya tinggi dan politik uang, solusinya bukan mencabut hak pilih rakyat, melainkan memperbaiki sistem dengan memperketat pembiayaan kampanye, memperkuat pengawasan, serta menindak tegas kecurangan dalam proses pemilihan.

Hingga saat ini, wacana pengembalian Pilkada ke DPRD masih berada pada tahap diskusi politik. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum menetapkan keputusan resmi terkait perubahan sistem tersebut. Perbedaan pandangan antara partai politik, akademisi, dan masyarakat menunjukkan bahwa isu ini tidak hanya berkaitan dengan efisiensi anggaran, melainkan juga berkaitan langsung dengan tata kelola demokrasi lokal di Indonesia.

Karya: Pretail
Editor: Byline