Minggu, 31 Agustus 2025

DARI JALANAN HINGGA KEKHAWATIRAN, ISYARAT TRAGEDI 1998 TERULANG?

[Opini]


Sumber: Kompas.com

Dikutip dari kompas.com, tahun 1998 adalah titik balik sejarah Indonesia. Jatuhnya rezim orde baru membuka pintu menuju era demokrasi yang menjanjikan kebebasan, keadilan, dan pemerintah yang bersih. Reformasi lahir dari gelombang protes mahasiswa dan rakyat yang menginginkan perubahan mendasar terhadap kekuasaan otoriter dan koruptif.

Bila tahun 1998 ditandai dengan keberanian mahasiswa dan rakyat menuntut keadilan di jalanan, maka tahun 2025 ini memperlihatkan demokrasi yang semakin dibungkam secara halus lewat regulasi, pembatasan kebebasan berpendapat, dan lembaga lembaga independen. Namun perbedaan tahun 1998 represif secara fisik dan terang terangan contohnya seperti penculikan, penembakan, dan penjarahan. Tetapi berbeda pada tahun sekarang, represifnya secara halus dan legal. Legal formal seperti pakai hukum, regulasi, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan blokir konten.

Namun, ada kemiripan yang patut kita waspadai, konflik antar sesama rakyat. Contoh terdekat adalah insiden yang menimpa Affan Kurniawan yang terjadi pada Kamis malam (28/08), seorang ojek online (ojol) yang ditabrak oleh kendaraan taktis (rantis) kepolisian negara republik Indonesia (Polri). Padahal, saat itu Affan sedang bekerja, dan melintas dilokasi demo. Naasnya, sebuah rantis brigade mobil (brimob) melaju kencang dan tubuhnya terlindas. Rakyat tentu tambah marah, dan makin tidak terkendali. Hal Itu menjadi bukti bahwa, Alih-alih berdiskusi, dan melindungi satu sama lain. kita justru mulai saling menyerang, dan banyak korban yang tidak bersalah terkena imbasnya. 

Kemudian dikutip dari detik.com, mulai Sabtu malam (30/08), pengguna TikTok di Indonesia tidak lagi bisa menggunakan layanan siaran langsung atau live. Pihak TikTok memutuskan untuk menonaktifkan fitur tersebut sementara waktu dengan alasan menjaga keamanan nasional. Terkait hal ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan, kebijakan tersebut bukan arahan pemerintah melainkan inisiatif TikTok sendiri. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar. Ia membantah kabar bahwa pemerintah meminta TikTok menghentikan layanan live sementara waktu. 

Tapi, apakah benar ini merupakan inisiatif dari Tiktok itu sendiri? Atau justru sebuah awal pembungkaman kepada rakyat yang katanya bebas memberi aspirasi, tapi malah dibatasi? Apakah situasi hari ini sudah sedekat itu dengan tragedi 1998?

Menurut saya, dalam beberapa aspek, belum. Namun secara atmosfer, tekanan sosial dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah mulai memuncak, mirip dengan suasana pra-reformasi dulu. Rakyat mulai muak, suara dibungkam, media dibatasi, dan aparat mulai dianggap tak lagi membela rakyat.

Henry Manampiring, yang merupakan seorang penulis turut berpesan untuk belajar dari kerusuhan 1998. "Belajar dari kerusuhan dan perkosaan 1998 masal jangan mau diadu domba melawan suku atau agama lain," ucapnya dilaman instragramnya.

Dalam pandangan saya, kalimat tersebut benar. Itu dapat menjadi pengingat bagi kita. Kita tidak butuh pertumpahan darah untuk memperjuangkan suara. Rakyat Indonesia hari ini harus lebih bijak, lebih kritis, tapi juga lebih damai dalam menyuarakan pendapat. Kita tahu harga dari sebuah kerusuhan, dan kita tidak ingin membayarnya lagi. 

Ingat, jangan terprovokasi. Suarakan kebenaran, tapi dengan kepala dingin. Karena demokrasi bukan hanya soal kebebasan bicara, tapi juga soal kedewasaan dalam berdialog. Reformasi bukan sekedar warisan, tapi juga sebuah tanggung jawab. Mungkin kita memang bukan generasi pertama yang melawan ketidakadilan, tapi kita bisa jadi generasi pertama yang melawan dengan cara yang lebih beradab. Hal itu hanya bisa terjadi jika kita semua, rakyat, mahasiswa, aparat, dan pemerintah, sama-sama ingat, bahwa Indonesia bukan milik satu suara, tapi milik semua.

Kalau kita semua gagal menjaga itu, maka bukan tidak mungkin sejarah akan terulang dan kali ini, luka yang sama akan terasa lebih pedih karena kita sebenarnya sudah tahu cara mencegahnya, tapi memilih untuk tidak.

Karya: Ratu & Ana 
Editor: indepth

Jumat, 29 Agustus 2025

RANTIS POLRI, PENGAMAN ATAU ANCAMAN NYAWA RAKYAT?

[ Opini ]




Insiden kendaraan taktis (rantis) yang menabrak driver ojek online (ojol) di Pejompongan bukan sekadar kecelakaan biasa. Tragedi ini menjadi bukti bahwa rasa aman warga bisa hilang kapan saja, bahkan oleh pihak yang seharusnya melindungi mereka.

Tragedi ini terjadi pada Kamis, 28 Agustus 2025 sekitar pukul 19.25 WIB, di kawasan Jalan Penjernihan I, Pejompongan, Jakarta Pusat. Saat itu sedang berlangsung demo menolak tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berlangsung ricuh di sekitar Gedung DPR.

Mengutip dari katadata.co.id, di tengah kekacauan, seorang driver ojol bernama Affan Kurniawan (21) yang sedang bekerja melintas di sekitar lokasi. Affan terjatuh di jalan, dan naas, sebuah rantis Brigade Mobil (Brimob) melaju kencang dan melindas tubuhnya. Video yang beredar menunjukkan rantis sempat berhenti sejenak, tetapi kemudian kembali melaju dan semakin melindas tubuh korban. Affan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), namun nyawanya tidak tertolong.

Dilansir dari kumparan.com, Affan adalah mahasiswa tingkat akhir yang juga bekerja sebagai driver ojol untuk membantu kebutuhan keluarganya. Fakta yang beredar juga menyebutkan bahwa tujuh oknum anggota Brimob yang bertugas mengoperasikan rantis tersebut kini telah diamankan untuk diperiksa. Namun hingga saat ini, belum juga diketahui nama-nama anggota Brimob yang menabrak Affan hingga tewas.

Pengoperasian rantis di kawasan padat seharusnya dilakukan dengan disiplin dan prosedur ketat. Fakta bahwa seorang ojol yang hanya mencari nafkah bisa menjadi korban menunjukkan bahwa profesionalisme aparat masih jauh dari harapan. Rantis sejatinya dirancang untuk melindungi dan menjaga keamanan, bukan menjadi ancaman mematikan bagi warga. Dalam kondisi kericuhan sekalipun, kendaraan ini tidak perlu dikemudikan secara ugal-ugalan.

Dalam pandangan saya, kepercayaan publik pun akan semakin menipis. Permintaan maaf dan janji investigasi terdengar seperti pola lama yang terus diulang tanpa tindakan nyata. Publik butuh bukti bahwa ada evaluasi, transparansi, dan sanksi tegas agar jurang ketidakpercayaan tidak semakin lebar.

Bagi para ojol, tragedi ini bukan hanya soal luka fisik, tetapi juga trauma psikologis. Mereka kini harus bekerja dengan rasa waswas, khawatir bahwa ancaman di jalan datang bukan hanya dari lalu lintas atau kriminalitas, tetapi juga dari aparat itu sendiri.

Menurut saya, kejadian ini seharusnya menjadi titik balik. Reformasi di tubuh kepolisian bukan lagi wacana, tetapi keharusan. Profesionalisme tidak cukup diukur dari kemampuan mengendalikan peralatan, tetapi juga dari empati dan kesadaran bahwa tugas utama aparat adalah menjaga rasa aman masyarakat. Rakyat sekarang makin kehilangan kepercayaan pada aparat. Tanpa bukti nyata berupa evaluasi, penegakan hukum, dan perubahan sikap, rasa aman itu akan terus terkikis.

Karya: Fazila
Editor: Novel

Rabu, 27 Agustus 2025

PBAK HARI KEDUA, MAHASISWA BARU UIN RIL KENALI LINGKUNGAN FAKULTAS

[ Berita ]


Sambutan Dekan Fakultas Syariah
Sumber: Andre

Raden Intan – Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) hari kedua, Mahasiswa Baru (Maba) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) mulai diperkenalkan lingkungan fakultas masing-masing. (Rabu 27/08/25).

PBAK hari kedua dilaksanakan di gedung fakultas masing-masing, yang bertujuan untuk membantu maba beradaptasi dengan lingkungan jurusan, mengenal budaya akademik, sistem perkuliahan, layanan kampus, serta organisasi kemahasiswaan di fakultas.

Dr. Eva Rodiah Nur, M.H., selaku Dekan Fakultas Syariah (FS) menekankan pentingnya integritas dan pemahaman hukum Islam dalam kehidupan akademik maupun masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa UIN RIL berkomitmen memperkuat visi integritas melalui kurikulum cinta.

"Di Fakultas Syariah, Kurikulum Cinta wajib diterapkan hingga Juli 2028, yang berlandaskan kasih sayang dan kepedulian, serta menghindari tindakan saling membully," tuturnya.

Eli Sintia, mahasiswa baru Hukum Tata Negara (HTN), mengatakan bahwa penerapan kurikulum cinta menegaskan pentingnya keseimbangan antara akademik dan karakter.

“Hal ini menegaskan bahwa menjadi mahasiswa HTN tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial,” ucapnya.

Sementara itu, Rinda Aulia, mahasiswa baru Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), merasa bahwa PBAK hari kedua sangat luar biasa. “Kegiatan yang diselenggarakan terasa menyenangkan, terutama dengan kehadiran para pemateri hebat yang memberikan materi bermanfaat untuk mengenal fakultas,” ujarnya.


Rep: Erliana & Reva

Editor: Indepth

Selasa, 26 Agustus 2025

SEMARAK PBAK UIN RIL 2025, MAHASISWA BARU ANTUSIAS IKUTI ACARA

[ Berita ]


Sumber: Naila

Raden Intan — Semarak Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) Tahun 2025, mahasiswa baru (maba) antusias ikuti acara. (Selasa, 26/08/25)

PBAK tahun 2025 berlangsung selama tiga hari yakni dimulai pada 26—28 Agustus 2025. PBAK hari pertama dilaksanakan secara menyeluruh oleh mahasiswa baru (maba) dari seluruh fakultas di Gedung Serba Guna (GSG) K.H. Ahmad Hanafiah UIN RIL. 

Pada PBAK hari pertama, seluruh rangkaian kegiatan dilakukan dengan tertib dan aktif di GSG oleh seluruh maba dari 8 fakultas di UIN RIL. Para maba mengikuti arahan dari Senat Mahasiswa (Sema) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) fakultas masing-masing untuk menyanyikan yel-yel hingga masuk ke dalam GSG.

Selain itu, kegiatan Demonstrasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga turut menjadi saksi antusiasme para maba dalam mengikuti PBAK hari pertama. Mereka turut aktif dalam berekspresi pada setiap penampilan Demonstrasi UKM.

Cia salah satu mahasiswi Program Studi (Prodi) Manajemen Bisnis Syariah (MBS) mengaku bahwa PBAK yang dilaksanakan tahun ini sangat amat menggembirakan.

“PBAK pada hari pertama ini terasa sangat menggembirakan dan meninggalkan kesan yang mendalam sekaligus memberikan semangat baru bagi saya," ujarnya.

Selain itu Dina Marisa salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) turut mengungkapkan rasa senangnya saat menjalankan kegiatan ini.

“Saya merasakan kebahagiaan tersendiri mengikuti PBAK ini, terlebih pada saat demo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tadi, penampilannya sangat spektakuler dan sangat menarik perhatian para maba," ungkapnya.

Tak hanya itu, ia pun memberikan pesan untuk PBAK tahun berikutnya agar tetap konsisten menghadirkan kegiatan yang positif bagi para mahasiswa.

Rep: Nabila & Naila
Editor: Tala

RESMI MENJADI MAHASISWA, UIN RIL KUKUHKAN 4.174 CAMABA TAHUN 2025

[ Berita ]


Sumber: Content


Raden Intan — Resmi Menjadi Mahasiswa, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) kukuhkan sebanyak 4.174 Calon Mahasiswa Baru (Camaba) tahun 2025. (Selasa, 26/08/25).

Kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tahun 2025 mengusung tema "Merajut cinta, Merawat Semesta: Membangun Generasi Emas, Berjiwa Ekoteologis" dan diselenggarakan selama 3 hari dimulai dari tanggal 26—28 Agustus 2025. 

Hari pertama PBAK dilaksanakan di Gedung Serbaguna Guna (GSG) KH. Ahmad Hanafiyah UIN RIL. Sementara hari kedua dan ketiga, dilaksanakan di Fakultas dan Program Studi (Prodi).

Diresmikan langsung oleh Prof. Dr. Idham Khalid, M.Ag., selaku Ketua Senat pada Sidang Senat Terbuka. Dengan turut dihadiri oleh Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., selaku Rektor UIN RIL, Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag., selaku Wakil Rektor (Warek) III UIN RIL, jajaran Senat UIN RIL, jajaran Dekan dan Wakil Dekan (Wadek) Fakultas, serta seluruh Civitas Akademika UIN RIL. 

Rektor UIN RIL Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa maba harus memanfaatkan masa studi dengan baik.

"Maba harus memanfaatkan masa studi dengan baik. Gali ilmu setinggi-tingginya bangun jejaring pertemanan yang sehat, dan jadilah mahasiswa yang aktif, kreatif, serta berjiwa sosial," ucapnya. 

Warek III UIN RIL menyampaikan harapan kepada seluruh mahasiswa baru tahun 2025 agar mengikuti kegiatan PBAK secara maksimal serta bersungguh-sungguh agar mendapatkan wawasan dari kegiatan PBAK ini.

Lili Roikhatul Janah, mahasiswa baru Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) menyampaikan kesannya dalam kegiatan PBAK hari pertama ini. 

"Kegiatan PBAK ini benar-benar sangat mengesankan dan tidak menyangka akan semeriah ini, bahkan jauh melebihi ekspetasi yang saya bayangkan,” ungkapnya.

Rep: Milya

Editor: Tala

Rabu, 20 Agustus 2025

UIN RIL SEDIAKAN LAYANAN PENUKARAN UKURAN ALMAMATER BAGI CAMABA

[ Berita ]


Sumber: Tisya

Raden Intan — Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) menyediakan layanan penukaran ukuran almamater bagi calon mahasiswa baru (camaba) pada tahap ke-2 pembagian almamater. (Kamis, 21/08/25)

Pada pembagian almamater tahap pertama, terdapat banyak keluhan terkait ukuran jaket almamater yang tidak sesuai. Maka dengan adanya keluhan ini, UIN RIL menyediakan layanan penukaran almamater bagi calon mahasiswa baru (camaba) pada tahap ke-2. 

Pendistribusian jaket almamater tahap ke-2 dilaksanakan di area belakang Gedung Day Care UIN RIL, dimulai sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB yang dibagi ke dalam 3 hari, yakni:

1. Kamis, 21 Agustus 2025: Fakultas Syariah (FS), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), Fakultas Adab (FA), Fakultas Sains dan Teknologi (FST).

2. Jumat, 22 Agustus 2025: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).

3. Sabtu, 23 Agustus 2025: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Fakultas Psikologi Islam (FPI).

Siti Maimunah selaku salah satu panitia mengungkapkan bahwa terdapat keringanan bagi camaba tahap ke-1 untuk menukar almamater pada tahap ke-2.

"Camaba pada tahap 1 mendapatkan keringanan untuk menukarkan almamater jika ukuran yang didapat tidak sesuai, selama ukuran yang diinginkan tersedia," ungkapnya. 

Rama Aditia camaba program studi (prodi) Hukum Tata Negara (HTN) mengatakan bahwa penukaran almamater dilakukan tanpa syarat khusus. 

"Saya menukar dari ukuran XL ke L tanpa syarat khusus, hanya dengan membawa almamater yang ukuran sebelumnya tidak sesuai," ucapnya.

Reporter: Sakira & Tisya

Editor: Novel

Sabtu, 16 Agustus 2025

BENDERA ONE PIECE RAMAI DIKIBARKAN MENJELANG HARI KEMERDEKAAN INDONESIA KE-80

[ Artikel ]

Sumber: Beritasatu.com

Bendera One Piece yang menampilkan simbol Jolly Roger dengan tengkorak ber-topi jerami, menjadi viral di Indonesia menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia (RI). Banyak warganet membagikan foto dan video bendera ini berkibar berdampingan atau bahkan menggantikan posisi bendera Merah Putih di berbagai daerah. Fenomena ini cepat menyebar di media sosial karena dianggap unik, nyeleneh, dan sarat makna. 

Menurut tempo.com dalam dunia One Piece bendera tersebut dikenal sebagai Jolly Roger, yaitu simbol tengkorak yang dipakai oleh setiap kru bajak laut. Asal-usul Jolly Roger sendiri terinspirasi dari bendera bajak laut di sejarah nyata, yang digunakan pada abad ke-17 hingga ke-18 untuk menakut-nakuti musuh dan menandai identitas kapal bajak laut. 

Simbol Jolly Roger dalam konteks One Piece tidak selalu bermakna kekerasan atau kehancuran. Tetapi, juga menjadi ekspresi dari kebebasan dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang merupakan isu utama dalam cerita buatan Eiichiro Oda ini.

Dilansir dari NU.Or.id, Fenomena ini bukan sekadar tren fandom, tetapi juga cerminan cara generasi muda memaknai nasionalisme melalui bahasa budaya pop. Bagi banyak anak muda, bendera Jolly Roger bukan untuk menggantikan Merah Putih, melainkan cara menyampaikan pesan yang lebih relevan dengan era digital. 

Menurut Moh Faiz Maulana selaku Dosen Sosiologi Universitas Nahdatul Ulama Indonesia menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia melarang penggunaan bendera One Piece karena dianggap bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ini memicu perdebatan di media sosial dan kalangan penggemar.
 
Dilansir dari tirto.id pelecehan terhadap simbol negara pengibaran bendera One Piece dalam konteks kemerdekaan dianggap merendahkan lambang negara bendera Merah Putih. Pemerintah menegaskan bahwa simbol negara adalah pemersatu dan tidak boleh dipinggirkan oleh simbol lain, terutama dalam momentum sakral seperti peringatan 17 Agustus.

Dikutip dari detik.com Anak muda hari ini kritis, melek informasi, tetapi mereka tidak merasa didengar. Dalam situasi seperti itu, mereka mencari simbol baru yang mewakili semangat kebebasan, pemberontakan, dan solidaritas nilai-nilai yang ironisnya justru mereka temukan dalam tokoh bajak laut fiktif seperti Luffy, bukan dalam simbol-simbol kenegaraan.

Fenomena bendera One Piece yang berkibar di bawah bendera Merah Putih menjelang HUT ke-80 RI muncul karena adanya pergeseran cara generasi muda mengekspresikan nasionalisme. Meski pemerintah melarang penggunaannya dengan alasan menjaga persatuan, justru larangan itu semakin memicu perhatian publik dan membuat tren ini semakin ramai. Pada akhirnya, bendera Jolly Roger dipakai bukan untuk menyaingi simbol negara, melainkan sebagai bentuk ekspresi kebebasan, kritik sosial, sekaligus tanda bahwa generasi muda mencari cara baru untuk menyuarakan identitas dan semangat kemerdekaan sesuai zamannya.

Reporter: Alisya & Rizka
Editor: Tala