Minggu, 30 Maret 2025

HARMONI DALAM PERBEDAAN

[ Cerpen ]


Sumber: Artificial Intelligence

Langit di Kabupaten Bhaskara mulai gelap. Angin sore membawa aroma tanah basah setelah hujan ringan tadi siang. Di teras rumah bercat krem, Ardana duduk seraya meluruskan kakinya. Sementara Nawasena menggoyangkan kakinya dengan santai. Di antara mereka, Rakha, bocah enam tahun yang pipinya masih belepotan sisa kue, sibuk menyeruput susu dari gelasnya.

Tiba-tiba sebuah suara seolah menghantam gendang telinga mereka. Bunyi petasan meledak di jalan depan rumah membuat mereka kaget setengah mati. Rakha loncat kaget, hampir menumpahkan susunya.

"ASTAGA! SIAPA ITU?!"

Ardana terkekeh, menebak pasti anak-anak sekitar yang mulai heboh menjelang lebaran. Dari dalam rumah sebelah, suara Pak Iwan terdengar menggelegar, memprotes kebisingan.

Rakha merapat ke Nawasena, wajahnya kebingungan. Nawasena tersenyum kecil, menjelaskan bahwa besok Nyepi, jadi wajar kalau Pak Iwan ingin suasana lebih tenang. "Besok hari raya Nyepi, Pak Iwan pasti mau tenang karena ini malam Catur Brata," jelas Nawasena.

Mendengar itu, Rakha tiba-tiba teringat sesuatu dan mengernyit. "Catur Brata? Catur yang sering dimainin Paman Sangkuni yang bunda tonton itu ya?"

Ardana hampir terbatuk saking tertawanya, sementara Nawasena ikut tersenyum. "Bukan, Cil! Kebanyakan nonton Mahabharata nih kamu, jadi taunya catur dadu aja!"

Rakha cemberut, membuat Nawasena akhirnya menjelaskan. "Catur Brata itu empat pantangan utama saat Nyepi. Kita gak boleh menyalakan api atau listrik, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Makanya harus tenang."

Rakha membelalakkan mata saat menyadari kalau itu berarti ia tidak bisa nonton televisi atau bermain ponsel. Kepanikannya semakin menjadi, seolah-olah tidak bisa hidup tanpa hiburan. Namun, sebelum ia sempat mengeluh lebih jauh, suara petasan kembali meledak, membuatnya spontan memeluk kaki Nawasena dan berteriak menyuruh orang-orang berhenti.

Ardana hanya menepuk bahunya dengan santai, meyakinkan bahwa besok tidak akan ada yang berisik karena aturan Nyepi. Rakha mendecak kesal, lalu berjanji jika ada yang tetap menyalakan petasan, ia sendiri yang akan menyuruh mereka diam.

Beberapa menit setelahnya, adzan Isya berkumandang. Ardana bangkit dan meregangkan badannya. Ia hendak bersiap-siap untuk tarawih dan menanyakan apakah Nawasena akan langsung pulang.

Nawasena mengangguk, mengingat ia juga harus bersiap menjalani Nyepi. Namun sebelum benar-benar pergi, Rakha menarik tangannya dan menatapnya dengan serius.

"Kak Nawa, kalau besok orang-orang tetap main petasan, Kakak marah nggak?"

Nawasena menatap bocah itu lembut, lalu menggeleng pelan. "Aku nggak marah, Cil. Tapi sedih."

Rakha terdiam, menunggu penjelasan.

"Soalnya, toleransi itu artinya saling menghormati," ujar Nawasena. "Aku nggak bisa marah kalau ada yang lupa, tapi kalau mereka ngerti terus tetap ganggu, berarti mereka nggak peduli sama orang lain."

Rakha tampak berpikir, lalu akhirnya mengangguk mantap. Ia berjanji tidak akan mengganggu Kak Nawa besok dan memilih bermain di dalam rumah saja.

Saat hendak berpisah, Ardana masuk ke dalam rumah sebentar, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik kecil. Ia menyerahkannya pada Nawasena dengan senyum simpul.

"Tadi Ibu nitip ini buat kamu," ucapnya.

Nawasena membuka kantong itu. Ada kurma, sepotong dodol, dan sekotak kecil kue kering di dalamnya.

"Kata Ibu, berbagi itu nggak harus nunggu Lebaran. Buat buka puasa lusa nanti, kamu bisa makan ini," lanjut Ardana.

Nawasena tersenyum lebar, merasa hangat oleh perhatian kecil itu. "Makasih, Dhana. Besok aku nggak bisa ngomong sama kamu, jadi sebelum puasa bicara dimulai... jaga diri baik-baik ya, jangan nakal!"

Mereka tertawa sebelum akhirnya berpisah. Besok, Nawasena akan menjalani Nyepi dalam keheningan, sementara Ardana menyambut Lebaran. Tapi malam ini, mereka duduk berdampingan di bawah langit yang sama, berbagi cerita, berbagi tawa, dan yang paling penting saling menghormati serta menghargai satu sama lain.

Karya: Sight
Editor: Indepth

Sabtu, 29 Maret 2025

USMAR ISMAIL, SOSOK DI BALIK BAPAK FILM NASIONAL

[ Artikel ]


Sumber: Kuasa.kata.com


Usmar Ismail adalah sosok penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Lewat film-filmnya, ia tidak hanya membentuk identitas perfilman nasional, tetapi juga menjadi media untuk menyuarakan realitas kehidupan masyarakat pasca kemerdekaan. Kontribusinya yang besar dalam dunia perfilman membuatnya dijuluki sebagai Bapak Film Nasional. Dikutip dari kompas.com, selain dijuluki sebagai Bapak Film Nasional, pada 10 November 2021, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Usmar Ismail, seorang sutradara film, sastrawan, wartawan, dan pejuang Indonesia. Pemberian gelar ini dilakukan secara resmi di Istana Negara berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 109/TK/TH 2021 tanggal 25 Oktober 2021.

Usmar Ismail lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatera Barat dan wafat pada 2 Januari 1971 di usianya yang hampir genap lima puluh tahun. Usmar menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Indonesia, ia melanjutkan studi ke University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat. Sejak muda, ia aktif di dunia sastra dan teater. Ia mendirikan kelompok Sandiwara Maya pada tahun 1943 bersama abangnya, El Hakim, dan tokoh-tokoh sastra lainnya seperti Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin. Kelompok ini dianggap sebagai awal mula lahirnya teater modern di Indonesia.

Pasca kemerdekaan, Usmar berkarier sebagai wartawan dan turut mendirikan surat kabar Rakyat, harian Patriot, serta bulanan Arena. Namun, minatnya pada dunia film semakin kuat. Hingga pada tahun 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI), yang menjadi salah satu langkah awal dalam membangun industri film nasional. Dilansir dari p2k.stekom.ac.id, Usmar mendirikan PERFINI, rumah produksi pertama yang sepenuhnya dikelola oleh orang Indonesia tanpa campur tangan asing. 

Salah satu karya pentingnya adalah Darah dan Doa, yang menjadi film pertama diproduksi oleh PERFINI. Film ini seringkali dianggap sebagai film Indonesia "nasional" pertama karena merupakan film yang disutradarai oleh orang Indonesia asli, diproduksi oleh perusahaan film Indonesia, dan diambil gambarnya di Indonesia. Selain itu, Usmar juga beranggapan bahwa Darah dan Doa mencerminkan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, tanggal 30 Maret yang bertepatan dengan hari pertama syutingnya, kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Pengaruhnya dalam dunia perfilman masih terasa hingga kini. Semangat dan dedikasi Usmar Ismail terus menginspirasi generasi muda dalam berkarya. Keberaniannya menyuarakan realitas sosial melalui film menjadi teladan bagi sineas yang ingin menghadirkan karya bermakna. Warisan yang ia tinggalkan tidak hanya mengukir sejarah, tetapi juga memberikan arah bagi masa depan perfilman Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya dalam dunia perfilman, pemerintah mengabadikan namanya dalam Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Jakarta.

Usmar Ismail bukan hanya seorang sutradara, tetapi juga tokoh penting dalam perkembangan film Indonesia. Lewat karyanya, ia membuktikan bahwa film dapat merekam sejarah, menyuarakan realitas sosial, dan memperkuat identitas bangsa. Hingga kini, pemikirannya masih menginspirasi sineas muda. Oleh karena itu, tidak heran jika ia dikenang sebagai Bapak Film Nasional, dan Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret menjadi bentuk penghormatan atas jasanya.

Karya: Ismi 

Editor: Indepth

Senin, 24 Maret 2025

KETUA DPRD PROVINSI LAMPUNG AKAN SAMPAIKAN ASPIRASI MAHASISWA KE PEMERINTAH PUSAT

[ Berita ]


Sumber: Novita

Raden Intan – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung akan sampaikan aspirasi mahasiswa ke pemerintah pusat. (Senin, 24/03/25)

Ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung, menuntut pencabutan UU TN dan penolakan RUU Polri. Aksi yang berlangsung pada hari ini mendapat respon langsung dari Bapak Ahmad Giri Akbar, SE., M.BA., selaku Ketua DPRD Provinsi Lampung, turun langsung menemui para demonstran untuk berdialog. 

Massa aksi menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak regulasi tersebut, sementara Ketua DPRD menyampaikan bahwa ia akan menampung dan meneruskan aspirasi mereka ke pemerintah pusat. Situasi di lokasi aksi berlangsung dengan ketegangan yang tetap terkendali di bawah pengamanan aparat.

Ahmad Giri Akbar, SE., M.BA., memberikan tanggapannya secara langsung di depan para demonstran.

"Kami menerima aspirasi teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Provinsi Lampung untuk kami sampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), yang kedua juga kami berterima kasih atas aspirasi, masukan teman-teman BEM," ucapnya.

Selanjutnya, Muhammad Ammar Fauzan selaku Jendral Lapangan yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Lampung (UNILA) dalam forum menyampaikan bahwa disahkannya UU secara diam-diam menyebabkan kekhawatiran kembalinya pada masa orde baru.

"Tentunya pada hari ini bentuk kekhawatiran teman-teman massa aksi terkait masa orde baru akan kembali karena disebabkan oleh pengesahan RUU secara diam-diam oleh DPR," jelasnya.

Reporter: Naya & Syifa

Editor: Indepth

Kamis, 20 Maret 2025

RUU TNI SUDAH SAH, AKSI KAMISAN LAMPUNG TETAP TERLAKSANA SUARAKAN DAMPAKNYA

[ Berita ]


Sumber: Courage

Raden Intan — Rancang Undang-Undang (RUU) Tentara Negara Indonesia (TNI) sudah disahkan, aksi Kamisan di Lampung tetap dilaksanakan untuk menyuarakan dampaknya bagi masyarakat sipil. (Kamis, 20/03/25).

Aksi yang dilakukan Kamis Sore sekitar pukul 16.00 WIB di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung ini tetap dilaksanakan. Dalam aksi, Haikal Rasyid selaku perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lampung suarakan dampak buruk disahkannya RUU TNI tersebut diantaranya:

1. RUU ini berpotensi memperbesar peran TNI dalam ranah politik. 

2. Dengan memperluas peran TNI dalam pengawasan dan bahkan penegakan hukum, akan ada risiko penyalahgunaan kekuasaan oleh institusi militer. 

3. Potensi militerisasi dalam kehidupan sehari-hari. 

4. Terjadinya konflik kepentingan, TNI memiliki kepentingan tertentu dalam aspek ekonomi dan sosial yang mungkin bertentangan dengan kepentingan rakyat.

5. RUU TNI ini dapat menimbulkan ketegangan sosial, terutama jika masyarakat merasa bahwa militer memiliki kekuasaan yang terlalu besar.

Selain itu, Haikal turut menyampaikan RUU TNI ini akan mengancam supermasi sipil dan demokrasi dalam kehidupan bersama. 

"Pengesahan RUU ini bermasalah karena terdapat banyak pasal-pasal yang mengancam sipil dan demokrasi. Meskipun RUU ini telah disahkan kita tetap harus menyuarakan penolakan itu supaya publik bisa mengerti RUU ini akan memberi dampak dikehidupan kita bersama," jelasnya.

Selanjutnya, Rifandy Ritonga selaku akademisi Fakultas Hukum (FH) dari Universitas Bandar Lampung (UBL) menyampaikan tanggapannya bahwa negara ini lahir dari supremasi sipil, dan sesuai dengan Undang-Undang Dasar (UUD) yang berlaku, tugas TNI adalah melindungi masyarakat sipil.

"Negara ini lahir dari supermasi sipil. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 30 ayat (3) juga di sana menyatakan bahwa tugas TNI adalah melindungi masyarakat sipil, bukan malah mengatur kehidupan masyarakat sipil," ucapnya.

Reporter: Lisa & Salsa 

Editor: Indepth

5000 MAHASISWA UIN RIL AKAN KKN DI BANDAR LAMPUNG, BENTUK KOMERSIALISASI PENDIDIKAN?

[ Opini ]


Sumber: radenintan.ac.id

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah program yang umumnya diselenggarakan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Tujuannya untuk mengajak mahasiswa turun langsung ke masyarakat, mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari, dan memberikan kontribusi nyata. Biasanya, KKN ditempatkan di berbagai daerah yang membutuhkan bantuan atau mengalami ketertinggalan dalam berbagai aspek seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur.

Di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) sendiri, KKN biasanya dilakukan di beberapa kabupaten di Lampung maupun luar Lampung. Namun, tahun ini berbeda. Karena baru-baru ini UIN RIL mengumumkan rencana untuk mengerahkan 5.000 mahasiswa dalam program KKN pada 126 kelurahan di kota Bandar Lampung. Dalam Program ini disebut sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus upaya memperkuat hubungan antara kampus dan masyarakat setempat. Meski disambut baik dan mendapatkan dukungan dari Wali Kota Bandar Lampung, kebijakan ini menuai beragam respons di kalangan 5000 mahasiswa yang disebutkan.

Keputusan untuk memusatkan 5000 mahasiswa KKN di Bandar Lampung menimbulkan pertanyaan apakah ini bentuk pengabdian yang efektif atau justru kehilangan esensi KKN itu sendiri?. KKN yang seharusnya menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk belajar dan berkontribusi langsung kepada warga desa serta mencoba hidup di lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya. Merancang dan merencanakan apa yang ingin dilakukan di desa tersebut untuk warga desa, agar membentuk desa, satu tingkat lebih baik dari sebelumnya.

Beberapa mahasiswa menyampaikan pandangannya terkait kebijakan ini. Seperti A (dengan nama samaran) selaku mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menurutnya, di luar kota Bandar Lampung masih banyak daerah yang tertinggal dan membutuhkan perhatian. Kemungkinan keputusan ini disebabkan oleh adanya efisiensi anggaran di UIN RIL. Berbeda dengan F (nama samaran) selaku mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), ia sempat bertanya kepada mahasiswa UIN Syarif Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Malik Ibrahim Malang yang belum ada kabar pelaksanaan KKN. Mahasiswa tersebut menduga kemungkinan karena efisiensi anggaran. Ia juga menyampaikan kita perlu mengkaji lagi untuk di UIN RIL karena berita dana anggaran dari pemkot sebelumnya. 

Dari dua pandangan ini, saya yang juga menjadi salah satu bagian dari 5000 mahasiswa tersebut merasa bahwa berita yang telah tersebar dari laman UIN RIL yang ingin membangun Fakultas Kedokteran dan diberikannya hibah berupa rumah sakit oleh Walikota Bandar Lampung sebesar 75 Miliar. Berita ini secara tak langsung menimbulkan asumsi-asumsi bagi mahasiswa yang merasa terdapat kerjasama antara UIN RIL dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung termasuk Walikota Bandar Lampung, Eva Dwiana. 

Saya mempertanyakan apakah 5000 mahasiswa ini menjadi syarat hibah agar dapat membangun Fakultas Kedokteran dan rumah sakit tersebut? Apakah penempatan mahasiswa KKN itu murni berdasarkan kebutuhan akademik atau motif lain terkait hibah yang diberikan?. Hal ini dapat dianalisis bahwa jika dugaan ini benar adanya, kampus secara langsung mewajibkan mahasiswa melakukan KKN di kota Bandar Lampung sebagai bentuk timbal balik, maka ini bisa jadi sebagai bentuk komersialisasi pendidikan yang terselubung.

Sesuai peraturan yang berlaku dalam Undang-undang (UU) No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bebas dari intervensi politik dan kepentingan komersial yang tidak sesuai dengan misi pendidikan. Kedua Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 32 Tahun 2011 tentang Hibah dan Bantuan Sosial menyatakan bahwa hibah harus diberikan tanpa syarat yang mengikat secara timbal balik. Jika ada indikasi kampus "membalas" hibah dengan kebijakan tertentu, ini dapat melanggar aturan tersebut. Tak hanya ini, saya juga merasa ini ada kaitannya dengan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah, namun ini sepertinya bukan alasan utama dan seharusnya keputusan ini dipertimbangkan dengan matang.

Selain 2 mahasiswa tadi, beberapa perwakilan dari setiap fakultas lain juga yang menyatakan tidak setujunya mereka dengan keputusan yang diambil oleh pihak kampus ini. Di Fakultas Syari'ah, Jr (nama samaran) menyayangkan karena ia yang berdomisili di Bandar Lampung sangat ingin merasakan tugas di luar Bandar Lampung dan akan bingung juga kedepannya KKN benar dilaksanakan di kota karena masih banyak desa-desa yang membutuhkan kerja dari mahasiswa KKN. Pendapat serupa yang diungkapkan ND (nama samaran) dari Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FU) yang merasa penempatan ini berdekatan membuat interaksi dengan masyarakat desa menjadi kurang maksimal dan pasti banyak mahasiswa yang kecewa karena ingin KKN menjelajahi Lampung atau bahkan luar Lampung seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemudian, LA (nama samaran) dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) berpendapat bahwa keputusan ini kurang efektif karena mahasiswa nantinya tidak hadir ditengah warga yang benar-benar merasa butuh bantuan dan akan menghilangkan esensi KKN itu sendiri.

Semua pandangan ini menjadi bukti tidak setujunya mahasiswa dengan keputusan kampus yang akan mengarahkan 5000 mahasiswa tersebut untuk KKN di kota Bandar Lampung. Seharusnya dengan ini universitas dapat mempertimbangkan kembali dan merealisasikan apa yang diinginkan mahasiswa untuk tetap melakukan KKN seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika tidak, saya rasa ini makin bertambahnya rasa tidak percaya pada kredibilitas universitas dalam mengambil keputusan. KKN yang seharusnya berfungsi menjadi perjalanan transformatif bagi mahasiswa dalam pengabdian langsung di sebuah desa. Menjadi kesempatan untuk keluar dari zona nyaman, menghadapi tantangan baru, dan belajar dari realitas sosial yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Dengan memusatkan KKN di Bandar Lampung, mahasiswa akan kehilangan kesempatan yang dinantikan seumur hidup sekali.

Karya: Tim UKM PersMa RI

Selasa, 18 Maret 2025

TERAPKAN EFISIENSI ANGGARAN DI UIN RIL, TUAI TANGGAPAN CIVITAS AKADEMIKA

[ Berita ]


Surat Edaran Work From Home

Raden Intan — Terapkan efisiensi anggaran Kementerian Agama (Kemenag) di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), tuai berbagai tanggapan dari civitas akademika UIN RIL. (Rabu, 19/03/25)

Kemenag telah menerbitkan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor 12 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran. Langkah ini merupakan tanggapan terhadap Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang pentingnya efisiensi dalam Anggaran Pendapatan Badan Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Badan Daerah (APBD).

Tujuannya untuk memberikan pedoman kepada kepala satuan kerja Kemenag dalam melaksanakan kebijakan efisiensi anggaran. Dikutip melalui laman kemenag.go.id Sekretaris Jenderal Kemenag pada (9/3), Kamaruddin Amin, menyatakan bahwa edaran ini diharapkan dapat memastikan pelaksanaan tugas kementerian berjalan secara tertib, akuntabel, dan tepat sasaran.

Adanya surat tersebut, UIN RIL menindaklanjuti dengan melakukan efektifitas pelaksanaan tugas dan fungsi seluruh civitas UIN RIL untuk memperhatikan pelaksanaan anggaran dalam mendukung program prioritas pemerintah dan Kemang, penggunaan listrik dan air dibatasi dan memberikan pelayanan melalui Work From Home (WFH) pada setiap hari Jum'at dan dapat melaksanakan di luar kantor. 

Hal ini menuai tanggapan dosen dan mahasiswa UIN RIL. Dalam wawancara bersama RK (nama samaran) selaku dosen UIN RIL, menyampaikan bahwa efisiensi ini juga berpengaruh dalam hal penghematan dana sehingga dapat memanajemen segala sesuatunya sesuai kebutuhan.

"Efisensi dari Kemenag yang diterapkan ke UIN RIL menurut saya sedikit berpengaruh terutama soal penghematan dana karena terbiasa melakukan keperluan selama ini secara berlebihan. Dibalik sisi negatifnya ada juga positifnya agar bisa menyusun segalanya sesuai kebutuhan," ujarnya.

Selanjutnya, Ghofur selaku mahasiswa program studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) menyampaikan bahwa ia kurang setuju dengan diterapkannya efisiensi anggaran ini.

"Terkait dengan surat edaran bahwasanya untuk perkuliahan hari jumat online dalam pengaplikasiannya, saya kurang setuju karena mengurangi efektivitas, produktivitas pembelajaran akan tetapi positifnya ini dapat mengurangi biaya transpotasi saya," ujarnya.

Aulia Nissa Ahnafia selaku mahasiswa prodi Manajemen Bisnis Syariah (MBS) merasa, hadirnya efisiensi yang menjadikan perkuliahan dilaksanakan secara online di hari Jumat mempengaruhi kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa, sehingga membuat perkuliahan kurang maksimal.

Reporter: Ghazy & Fathan 

Editor: Indepth

MENGGALI MAKNA JULUKAN LAMPUNG, "LITTLE INDONESIA" SEBAGAI SIMBOL KEBERAGAMAN BUDAYA

[ Artikel ]


Sumber: blogger.com

Lampung merupakan sebuah provinsi yang ada di Indonesia tepatnya berada di ujung selatan pulau Sumatera, Indonesia. Lampung masuk ke dalam wilayah administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lampung memiliki luas keseluruhan 35.376,50 kilometer persegi. Ibukota provinsi ini adalah Bandar Lampung.

Kota ini menampung masyarakat dari luar Lampung. Dilansir dari detik.com, Lampung memiliki banyak ragam suku, salah satunya suku Jawa yang mendominasi di wilayah Lampung. Bahkan lebih kagetnya lagi suku-suku tersebut lebih banyak daripada penduduk asli Lampung. Hal ini dibuktikan melalui data dari Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfotik) Provinsi Lampung mulai dari etnis Jawa 60,10%, dan Lampung sendiri 21,9%. Ini menjadi alasan kenapa Lampung dijuluki sebagai Little Indonesia atau Indonesia Kecil.

Dilansir dari Idn.times, penyebaran suku di Lampung ini disebabkan oleh pelaksanaan program transmigrasi pada era kolonial Belanda termasuk suku Jawa dan Sunda, ke Provinsi Lampung. Bahkan setelah masa kemerdekaan dan selama beberapa dekade berikutnya, program transmigrasi ini terus dilanjutkan. Akibatnya, jumlah penduduk pendatang di Lampung jauh lebih besar dibandingkan dengan penduduk asli daerah tersebut. Oleh karena itu, Provinsi Lampung sering dijuluki sebagai Little Indonesia, karena keberagaman suku yang ada di sana.

Julukan Little Indonesia tidak terlepas dari keanekaragaman budayanya. Masyarakat Lampung sangat terbuka akan kehadiran pendatang baru. Mereka memiliki falsafah hidup "Nemui-nyimah" yang artinya ramah dan terbuka kepada orang lain. Lampung selain dikenal sebagai ragam budayanya, juga dikenal akan keberadaan keindahan alam yang sangat indah. Memiliki pantai-pantai yang berada di Kalianda, Lampung Selatan menjadikan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke pantai tersebut. Lampung terkenal dengan garis pantainya yang panjang dan Indah. Keindahan pantai lampung sangat mendunia. Banyak turis mancanegara berdatangan ke Lampung untuk menikmati ombak atau sekedar berlibur.

Kehadiran pendatang baru di Lampung seringkali membawa keragaman budaya yang dapat memperkaya kehidupan masyarakat setempat. Interaksi dan kolaborasi antara kedua kelompok ini menciptakan suasana yang rukun dan damai, menjadikan Lampung sebagai contoh daerah yang sukses dalam program transmigrasi. Ini menunjukkan bahwa dengan saling menghormati dan memahami adanya perbedaan dapat menjadi kekuatan dan membangun komunitas yang baik. Itulah alasan mengapa Lampung dijuluki sebagai Little Indonesia.

Karya: Marsha

Editor: Indepth