Berita
![]() |
| Sri Wahyuni, M.Sos selaku Pembina UKM PersMa RI bersama jajaran presidium, pengurus, dan peserta lomba |
![]() |
| Sri Wahyuni, M.Sos selaku Pembina UKM PersMa RI bersama jajaran presidium, pengurus, dan peserta lomba |
![]() |
| Foto anggota UKM PersMa RI saat kunjungan ke Lampung Post |
[ Opini ]
![]() |
| Sumber: Kompas.com |
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 merupakan tonggak penting karena menjadi ajang pemilihan pemimpin daerah secara langsung oleh rakyat. Pilkada menjadi perwujudan demokrasi ditingkat lokal, Pilkada memberikan kesempatan bagi rakyat untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan keinginan mereka.
Dalam Undang-undang Tahun 2026 pasal 201 ayat 8 tentang Pilkada berbunyi: “Pemungutan suara serentak nasional dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dilaksanakan pada bulan November 2024.”
Berdasarkan data yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU), total daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak tahun 2024 sebanyak 545 daerah, dengan rincian 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota.
Pada hal yang akan dibahas terkait dengan momentum Pilkada ini, diharapkan sosok pemimpin yang dipilih bukan pemimpin karbitan, bukan pemimpin karena modal besar dan bukan juga karena dorongan pihak-pihak tertentu yang sarat dengan kepentingan politik.
Pemimpin yang diharapkan adalah mereka yang mempunyai pengalaman dan kemampuan serta rekap jejak yang jelas. Kepala daerah yang terpilih nantinya diharapkan mempunyai visi, misi, serta program kerja yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Baik buruknya seorang pemimpin atau kepala daerah yang dipilih rakyat melalui proses demokrasi, merupakan konsekuensi logis yang harus diterima oleh rakyat itu sendiri. Sehingga mengenal latar belakang pasangan calon kepala daerah yang akan dipilih menjadi penting agar tidak salah memilih.
Penyelenggaraan Pilkada secara serentak pada tahun 2024 ini juga menjadi tolak ukur dari kedewasaan rakyat Indonesia dalam berdemokrasi. Pilkada tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk suksesi kekuasaan semata, tetapi juga sebagai cerminan dari nilai-nilai moral dan etika serta kejujuran yang dianut oleh rakyat sebagai pemilik suara. Pilkada yang baik akan membantu membangun daerah yang lebih baik dan bermartabat.
Mengutip dari laman website Kementrian Agama Republik Indonesia, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Setjen Kemenag, M Adib Abdushomad mengatakan, menyikapi berbagai situasi kondisi jelang Pilkada serentak pada 27 November 2024, PKUB mengajak seluruh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh politik di Indonesia untuk mendukung Pilkada serentak dalam kondisi aman dan bermartabat.
Jika masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya dengan cerdas, Pilkada Serentak 2024 dapat menjadi momentum perubahan besar. Namun, jika kualitas kandidat diabaikan, kita hanya akan mengulangi kesalahan lama: memilih pemimpin yang jauh dari kebutuhan rakyat.
Pada akhirnya, Pilkada 2024 bukan hanya soal pergantian kepemimpinan, tetapi tentang membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Dengan kebijakan yang fokus pada pemerataan kesejahteraan, peningkatan peluang ekonomi, dan pengurangan kesenjangan sosial, Indonesia dapat melangkah menuju perekonomian yang lebih kokoh dan masyarakat yang lebih sejahtera.
Karya: Dina Asa
Editor: Coboth
![]() |
| Sumber: YouTube UIN RIL (Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D selaku Rektor UIN RIL saat memberikan penghargaan kepada Pasca Aulia Fadhilayul Hukkam, S.H) |
Raden Intan — Pasca Aulia Fadhilayul Hukkam, S.H meraih penghargaan skripsi terbaik pada Wisuda Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) Periode V Tahun 2024. (Rabu, 27/11/24)
Pasca Aulia Fadhilayul Hukkam, S.H merupakan wisudawan lulusan Program Studi (Prodi) Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Syariah (FS).
Penghargaan ini diberikan langsung oleh Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D selaku Rektor UIN RIL pada Selasa (26/11)
Dalam wawancaranya, Pasca Aulia membagikan kisahnya memilih artikel sebagai tahap akhir kelulusan.
“Saya memilih untuk menulis artikel, karena saya ingin menjadi yang pertama di jurusan yang memilih artikel sebagai tugas akhir,” ujarnya.
Pasca Aulia juga mengatakan, proses penulisan artikel ini memiliki suka dan duka, mulai dari meminta bimbingan, melakukan revisi, sampai tahap penerbitan jurnal.
Judul yang dipilih Pasca Aulia pada artikelnya yakni “Examining the Wages of Loading and Unloading Laborers from a Sharia Economic Law Perspective” dan berhasil terbit di Jurnal Sinta II.
Ruswansyah, S.S., M.M selaku orang tua dari Pasca Aulia merasa sangat bangga sekaligus terharu atas pencapaian putrinya.
“Saya merasa sangat bangga sekaligus terharu, anak saya bisa mendapatkan dua penghargaan sekaligus sebagai wisudawan terbaik tingkat fakultas dan wisudawan penulisan skripsi terbaik,” ungkapnya.
Rep: Egi & Puput
Editor: Cerpen
[ Puisi ]
![]() |
| Sumber: https://images.app.goo.gl/pJTKSFQPJrNLTUYN7 |
Di balik papan tulis yang penuh noda,
tersembunyi cerita yang tak terlihat mata.
Tangan guru menari, menulis harapan,
di ruang yang sunyi, terukir masa depan
Setiap goresan adalah cita-cita,
yang tak hanya mengajar, tetapi merangkai asa.
Di setiap kata yang terucap pelan,
ada mimpi-mimpi yang bersinar terang
Mereka bukan sekadar pengajar,
melainkan arsitek dari setiap jiwa yang lapar.
Di balik papan tulis yang kini hampir pudar,
tersembunyi perjalanan hidup yang tak pernah surut
Di sini, di ruang yang sederhana,
mimpi-mimpi lahir, tumbuh, dan terbang bebas.
Mereka adalah burung yang tak pernah lelah,
mengepakkan sayapnya menuju langit tanpa batas
Papan tulis mungkin hilang,
namun mimpi itu tak akan padam.
Setiap generasi yang belajar di sini,
akan membawa obor, menerangi dunia dengan cahaya mereka
Di balik papan tulis, ada mimpi yang hidup,
menari di antara kata-kata, menyentuh hati yang terus tumbuh
Karya: Yuni
[ Artikel ]
![]() |
| Sumber: https://images.app.goo.gl/ASA4MXZR88x9Qro76 |
Guru adalah sesosok pahlawan tanpa tanda jasa dan wadah ilmu dalam membentuk generasi bangsa, tak ayal jika perjuangannya begitu dihargai dan selalu dikenang oleh banyak orang. untuk menghormati profesi guru, Indonesia menetapkan tanggal 25 November sebagai peringatan Hari Guru Nasional, perayaan ini sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa para guru yang telah berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa.
Dilansir dalam laman gurudikdas.kemdikbud.go.id sejarah peringatan Hari Guru Nasional bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November 1945. Sebelumnya, pada tahun 1912, organisasi ini bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Anggotanya berisikan kepala sekolah, guru desa, guru bantu, hingga perangkat sekolah lainnya. Pada tahun 1932, PGHB mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pada saat itu, Belanda sebagai negara penjajah tidak menerima unsur nama “Indonesia” dalam PGI karena dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Dengan perubahan namanya, PGI menjadi semakin nasionalis dan perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat bersama guru.
Pada zaman penjajahan Jepang, PGI sempat dilarang untuk melakukan aktivitas nya. Namun, setelah proklamasi kemerdekaan, PGI menggelar Kongres Guru Indonesia yang pertama di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 24 - 25 November 1945. Kongres tersebut mencapai salah satu hasil yakni menghapuskan perbedaan suku, ras, agama, politik, dan lainnya agar menyatu menjadi Indonesia seutuhnya dalam wadah PGRI. Akhirnya, melalui Keputusan Presiden No. 8 Tahun 1994 ditetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional.
Dikutip melalui laman kompas.com Pemilihan tanggal 25 November tidaklah sembarangan. Sebab itu dipilih untuk menghormati Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia yang dianggap sebagai pelopor pendidikan bagi rakyat. Ki Hajar Dewantara bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga seorang pemikir, budayawan, dan tokoh pergerakan nasional.
Konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara mencakup prinsip bahwa pendidikan harus menyentuh aspek holistik individu, tidak hanya aspek kognitif tetapi juga moral, emosional, dan fisik. Sedangkan salah satu sumbangsih terbesar Ki Hajar Dewantara adalah mendirikan sekolah Taman Siswa pada 1922.
Selain itu, Hari Guru Nasional juga bukan hanya sekadar perayaan seremonial saja. Tapi lebih dari itu, ini adalah momen refleksi untuk memahami betapa pentingnya peran guru dalam mengarahkan generasi muda menuju masa depan yang lebih baik. Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, moralitas, dan sikap positif siswa.
Maka, penghormatan kepada guru harus terus ditingkatkan, baik melalui apresiasi moral maupun upaya nyata seperti peningkatan kesejahteraan dan dukungan dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, masyarakat perlu terus menanamkan rasa hormat kepada profesi guru, karena mereka adalah fondasi dari segala kemajuan bangsa.
"Meski waktu berganti, dedikasimu tetap abadi. Engkau adalah cahaya perubahan yang akan selalu menyala. Selamat Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa!
Engkau adalah lentera kehidupan, pendorong perubahan, dan pembentuk masa depan. Dedikasimu akan selalu dikenang sepanjang masa.
Karya: Nami
Editor: Cerpen
[ Berita ]
![]() |
| Sumber: Humas UIN RIL Rektor UIN RIL membuka jalan sehat pada acara Dies UIN RIL Ke-55 |
Raden Intan — Dies Natalis ke-56, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) kembali adakan jalan sehat. (Minggu, 24/11/24)
Dengan mengusung tema "Bertumbuh Mendunia" acara ini dilaksanakan di UIN RIL yang bertujuan untuk membangun silatutahmi antar civitas akademika UIN RIL, dan juga mengenang para pendahulu melalui kegiatan jalan sehat ini.
Dies Natalis UIN RIL ke-56 ini dimeriahkan dengan beberapa kegiatan yang bersifat olahraga, yakni jalan sehat dengan rute gedung Rektorat—Mahad Al-Jami'ah, kegiatan mancing bersama pada (24/08), dan juga lomba Karya Tulis Ilmiah (21/08) sebagai penerapan nilai-nilai intelektual untuk para mahasiswa.
Dr. Safari Daud, M.Sos.I. selaku Ketua Pelaksana menjelaskan bahwa kegiatan ini diadakan untuk membangun jalinan silaturahmi civitas akademika UIN RIL dan juga mengenang para pendahulu dari UIN RIL.
"Jalan sehat ini terkait dengan Dies Natalis ke-56. Tujuannya pasti untuk membangun jalinan silaturahmi civitas akademika UIN RIL, dan juga mengenang para pendahulu kita yang dulunya merupakan bagian dari UIN RIL," jelas beliau.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag, Ph.D. selaku Rektor UIN RIL, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Warek I IAIN Metro, Kepala Kantor wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Lampung, jajaran Kepala Polisi Daerah (Kapolda), perwakilan dari kantor Walikota Bandar Lampung, Purnabakti, serta seluruh civitas akademika UIN RIL.
Dalam sambutannya Rektor UIN RIL menyampaikan bahwa UIN RIL merupakan kampus terbersih, terhijau, dan terlestari menurut UI (Universitas Indonesia) Green Metric sejak 2018 yang lalu di kalangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. Satu-satunya PTKIN yang paling responsif dalam hal moderasi beragama se-Indonesia.
Selanjutnya, Aina Salsabila selaku peserta mengatakan bahwa jalan sehat merupakan program kegiatan yang sangat baik dalam Dies Natalis UIN RIL ke-56.
"Jalan sehat ini salah satu program kegiatan yang sangat baik dalam Dies Natalis UIN RIL ke-56. Dengan adanya kegiatan ini, sebagai bentuk menjaga kesehatan. Harapan saya semoga program ini terus berjalan, bisa mengenalkan kampus pada pihak-pihak di luar UIN RIL," ujarnya.
Rep: Desi & Amanda
Editor: Cerpen