Kamis, 30 Januari 2025

BANGUN KEPEMIMPINAN INDEPENDEN, UKM PERSMA RI GELAR SERTIJAB, OPUS, DAN RAKER

[ Berita ]


Sumber: Adline


Raden Intan — Membangun kepemimpinan independen, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Raden Intan (PersMa RI) gelar Serah Terima Jabatan (Sertijab), Orientasi Pengurus (Opus), dan Rapat Kerja (Raker) tahun 2025. (Kamis, 30/01/25)

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) dengan mengusung tema "Mengembangkan Legasi Kepemimpinan dengan Membangun PersMa RI Lebih Independen dan Evaluatif".

Dengan turut dihadiri oleh Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag., selaku Wakil Rektor (Warek) III bidang Kemahasiswaan UIN RIL, Sri Wahyuni, M.Sos., selalu pembina UKM PersMa RI, Perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) lingkup UIN RIL, Alumni, Demisioner, dan 21 anggota UKM PersMa RI.

Dalam sambutannya, Pembina UKM PersMa RI berharap agar pengurus baru memperhatikan kualitas berita sesuai dengan kemajuan teknologi.

"Saya berharap terhadap para pengurus baru hari ini teknologi kita sudah maju yang harus ikut memperhatikan kepada kualitas berita hari ini karena semua orang bisa jadi wartawan ataupun jurnalis menetralisasi berbagai macam-macam undang-undang, dan kode etik jurnalistik," harapnya. 

Ugas Gausul Anam selaku ketua pelaksanaan menyampaikan dalam laporannya, acara ini bertujuan agar kepemimpinan UKM PersMa RI lebih mandiri dan dapat mengevaluasi kepengurusan tahun lalu sehingga dapat dirancang lebih baik.

Arzaq Kafassoba selaku Pemimpin Umum (Pemum) yang terpilih periode 2024/2025 merasa senang dan berharap agar kepengurusan ini kerja sama tim dan solidaritasnya semakin berkembang.

"Harapan saya yang pastinya kerja sama antar tim serta solidaritas yang makin berkembang, serta tumbuh, rumah yang kita inginkan itu kita wujudkan bersama dan yang pastinya visi-misi yang kita cita-citakan itu tercapai," harapnya.

Rep: Adline

Editor: Indepth

Rabu, 29 Januari 2025

PERAYAAN IMLEK DI INDONESIA, BENTUK PERJUANGAN GUS DUR MELAWAN DISKRIMINATIF ETNIS TIONGHOA

 [ Artikel ]


Sumber: Pinterest

Imlek merupakan perayaan Tahun Baru Cina yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perayaan ini penuh dengan tradisi dan simbolisme yang unik, dan biasanya jatuh pada bulan Januari atau Februari menurut kalender Gregorian. Perayaan Imlek di Indonesia tak jauh dari peran Gus Dur dalam memperjuangkan kebebasan untuk etnis Tionghoa. 

Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, adalah sosok yang dikenal luas sebagai tokoh pluralisme dan kemanusiaan di Indonesia. Salah satu gelar yang disematkan pada beliau adalah Bapak Tionghoa Indonesia. Gelar ini bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari perjuangannya yang konsisten atas nama kemanusiaan dalam memperjuangkan hak-hak kaum minoritas, termasuk etnis Tionghoa, yang selama bertahun-tahun mengalami diskriminasi di Indonesia. Dikutip dari Kompas.com pada tahun 2004, gelar tersebut diberikan langsung oleh Perkumpulan Sosial Rasa Dharma di Kleteng Tay Kek Sie, Semarang, Jawa Tengah. Gelar itu tak berlebihan mengingat beberapa sumbangsih Gus Dur untuk masyarakat Tionghoa yang tidak mendapat keleluasaan di masa pemerintahan Orde Baru.

Dilansir dari validnews.id, salah satu diskriminasi yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia adalah adanya Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 tahun 1967, yang membatasi kegiatan budaya dan adat istiadat Tionghoa. Kebijakan ini telah membelenggu ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Akar persoalan ini bermula pada tahun 1966, ketika Indonesia memasuki babak baru dalam sejarah politiknya pasca peristiwa G30S/PKI tahun 1965, yang membuat situasi politik negara menjadi sangat tegang. Selama lebih dari tiga dekade pemerintahan Orde Baru, perayaan Imlek yang merupakan salah satu tradisi paling meriah dalam budaya Tionghoa terpaksa dilakukan secara tersembunyi. Semua ini dilakukan dalam upaya untuk menyamakan etnis Tionghoa dengan budaya dominan.

Dengan keberanian yang luar biasa ketika Gus Dur dilantik menjadi Presiden Indonesia yang keempat pada 1999 beliau mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 tahun 1967. Tidak hanya berhenti pada pencabutan kebijakan diskriminatif, Gus Dur juga mengambil langkah progresif lainnya dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Selain memperjuangkan hak-hak budaya, Gus Dur juga mendorong agar etnis Tionghoa lebih diterima dalam struktur sosial dan politik Indonesia. Ia berulang kali menyatakan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian integral dari bangsa Indonesia, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti warga negara lainnya. Gus Dur menentang stigma dan diskriminasi yang selama ini melekat pada komunitas tersebut dan mendukung integrasi mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

Langkah-langkah Gus Dur ini mendapat apresiasi luas, baik dari komunitas Tionghoa maupun masyarakat umum di Indonesia. Perjuangannya mencerminkan visi besar untuk menciptakan Indonesia yang inklusif, di mana setiap kelompok etnis, agama, dan budaya dapat hidup berdampingan dengan damai. Gelar "Bapak Tionghoa Indonesia" yang disematkan padanya menjadi bukti nyata penghormatan terhadap jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Gus Dur melihat keberagaman budaya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan bangsa yang perlu dirayakan dan dijaga.


Karya: Content 

Editor: Indepth

Senin, 27 Januari 2025

CAHAYA OBOR DAN PERJALANAN KE LANGIT

[ Cerpen ]

Sumber: Pinterest

Malam itu, Kampung Sukatani tampak lebih terang dari biasanya. Barisan obor menyala di tangan warga desa yang berjalan mengelilingi kampung, sambil melantunkan sholawat Nabi dengan semangat. Di barisan depan, Hasan, Salma, dan Dika memegang obor mereka dengan penuh kebanggaan meski ada sedikit keluhan juga.

“Eh, ini obor kok makin lama makin berat ya? Apa apinya tambah gede?” keluh Dika sambil mencoba mengistirahatkan tangannya.
Hasan nyengir sambil menoleh ke arahnya. “Itu namanya efek kurang olahraga, Dik.”
Salma langsung menyahut, “Iya, tangan kamu tuh kayak lidi. Bawa obor aja ngos-ngosan.”
“Yah, enggak usah nyindir dong!” Dika pura-pura cemberut.

Setelah mengelilingi kampung, mereka tiba di balai desa. Obor-obor dipadamkan satu per satu, diganti dengan lampu minyak yang memancarkan cahaya hangat. Anak-anak segera duduk melingkar di atas tikar yang sudah digelar. Di tengah lingkaran itu, Ustadz Ahmad duduk bersila dengan senyum ramah.

“Assalamualaikum, anak-anak,” sapa Ustadz Ahmad. “Tadi keliling kampungnya capek?”
“Capek, Ustadz,” jawab Hasan. “Seru sih, tapi tangan saya kayak habis angkat barbel,” keluh Dika sambil memijat lengannya.
“Ah, itu tandanya kamu harus sering ikut bantu ibu ngangkat galon di rumah,” balas Ustadz Ahmad bercanda. Semua anak tertawa.

Setelah suasana mencair, Ustadz Ahmad mulai berbicara. “Anak-anak, malam ini kita memperingati Isra Mi’raj. Ada yang tahu apa itu Isra Mi’raj?”
Hasan langsung menjawab, “Isra itu perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, ya, Ustadz?”
“Betul sekali, Hasan. Dan Mi’raj adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa naik ke langit, sampai Sidratul Muntaha. Semuanya terjadi dalam satu malam saja.”

Salma mengangkat tangan. “Ustadz, kok bisa dalam satu malam? Kan jauh banget.”
Ustadz Ahmad tersenyum. “Itu mukjizat dari Allah. Nabi Muhammad dibawa oleh makhluk bernama Buraq. Buraq ini bentuknya seperti kuda putih, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari unta. Dia punya sayap di kedua sisinya, dan langkahnya sejauh mata memandang.”

Dika tampak kagum. “Wah, keren banget. Kalau aku punya Buraq, aku pasti enggak bakal telat ke sekolah lagi!”
Salma langsung menyahut, “Yakin? Kalau kamu, Buraqnya mungkin kabur duluan, Dik, enggak kuat bawa kamu.”
Semua anak tertawa lagi, termasuk Ustadz Ahmad. “Jadi, Dika harus sering makan sayur biar enggak bikin Buraq keberatan.”

Setelah tawa reda, Ustadz Ahmad melanjutkan. “Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad memimpin salat bersama para nabi. Setelah itu, Malaikat Jibril membawa Nabi naik ke langit. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan para nabi lainnya.”

Hasan penasaran. “Nabi ketemu siapa aja, Ustadz?”
“Di langit pertama, Nabi bertemu Nabi Adam. Nabi Adam menunjukkan wajah-wajah keturunannya; ada yang bersinar terang, ada yang gelap. Itu melambangkan amal baik dan buruk manusia.”
Salma bertanya, “Kalau kita, wajah kita gimana, Ustadz?”
“Kalau kalian rajin salat dan baik sama orang lain, wajah kalian pasti bersinar di sana nanti." 

Ustadz Ahmad melanjutkan “Di langit kedua, Nabi bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ketiga, beliau bertemu Nabi Yusuf, yang sangat tampan.”

“Di langit keempat, Nabi bertemu Nabi Idris. Di langit kelima, ada Nabi Harun. Di langit keenam, Nabi bertemu Nabi Musa yang banyak memberi nasihat kepada Nabi Muhammad. Dan di langit ketujuh, beliau bertemu Nabi Ibrahim yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur. Itu adalah tempat ibadah para malaikat.”

Dika bertanya lagi, “Kalau Sidratul Muntaha itu apa, Ustadz?”
“Sidratul Muntaha adalah tempat paling tinggi yang dicapai makhluk. Di sana, Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Allah SWT. Nabi mendapat perintah salat. Awalnya, salat diwajibkan lima puluh kali sehari.”
“Lima puluh kali?!” Dika terbelalak. “Kalau gitu, tiap lima menit kita salat dong, Ustadz. Enggak sempat jajan lagi.”
Semua tertawa. Ustadz Ahmad menjelaskan sambil tersenyum, “Betul. Tapi Nabi Musa menyarankan Nabi Muhammad untuk meminta keringanan kepada Allah. Akhirnya, setelah beberapa kali memohon, salat diwajibkan hanya lima kali sehari. Tapi pahalanya tetap setara dengan lima puluh kali.”

Salma mengangguk. “Oh, jadi itu kenapa kita wajib salat lima waktu?”
“Iya, Salma. Salat itu hadiah dari Allah. Itu cara kita mendekatkan diri kepada-Nya. Jangan pernah malas salat, ya?”

Malam semakin larut. Ustadz Ahmad mengakhiri ceritanya dengan pesan mendalam. “Anak-anak, perjalanan Isra Mi’raj ini mengajarkan kita banyak hal. Pertama, jangan pernah ragu akan kebesaran Allah. Kedua, jagalah salat kalian karena itu hadiah istimewa dari Allah untuk kita.”

Saat berjalan pulang, Hasan berkata pelan, “Malam ini aku jadi sadar, salat itu ternyata istimewa banget.”
“Iya, dan Nabi Muhammad hebat banget. Kita harus lebih cinta sama Nabi,” tambah Salma.
Dika mengangguk. “Besok kita bangun Subuh bareng yuk. Jangan ada yang bolos, ya.”

Ketiganya tertawa kecil sambil melangkah di bawah cahaya bintang. Obor mereka sudah padam, tapi cahaya pelajaran malam itu terus menerangi hati mereka.

Karya: Sight 
Editor: Indepth

Kamis, 23 Januari 2025

TELAH TERBIT ANTOLOGI EDISI III TAHUN 2024

 [ Antologi ]



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Pers Mahasiswa! 

UKM PersMa Raden Intan dengan bangga mempersembahkan terbitan pada kepengurusan 2023/2024 yaitu Antologi Edisi III Tahun 2024 dengan judul "Vidyodaya Mandala (Lingkaran Ilmu)".

Dalam Antologi Puisi ini kami menyajikan karya sastra berupa Puisi mengenai seluk beluk dunia pendidikan yang di tulis langsung oleh Anggota UKM PersMa Raden Intan.

Yuk lihat terbitan terbaru kami melalui link di bawah ini 👇🏻

https://bit.ly/AntologiEdisiIIIPersMaRI

Selasa, 21 Januari 2025

UIN RIL NUANSA BARU, HADIRI KANOPI RAMAH PEJALAN KAKI

 [ Opini ]


Sumber: Courage

Pembangunan kanopi di UIN RIL, terutama dalam konteks Hari Pejalan Kaki Nasional adalah langkah yang patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan komitmen kampus untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi pejalan kaki, sekaligus mendukung gaya hidup sehat dan berkelanjutan.

Pembangunan kanopi di kampus memiliki potensi besar untuk meningkatkan kenyamanan dan fungsionalitas ruang terbuka bagi mahasiswa, dosen, dan staf. Di lingkungan kampus yang seringkali padat dan penuh aktivitas, kanopi memberikan perlindungan terhadap cuaca seperti hujan atau terik matahari. Saya rasa hal ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pejalan kaki, tetapi juga dapat mendukung suasana kampus yang lebih kondusif untuk belajar dan berinteraksi.

Selain itu, kanopi juga dapat berfungsi sebagai ruang transisi yang memperindah lanskap kampus. Dengan desain yang menarik dan estetik, kanopi dapat menjadi elemen penting dalam mempercantik ruang terbuka kampus, menciptakan area teduh yang cocok untuk istirahat, diskusi, atau kegiatan sosial. Kampus yang menyediakan ruang terbuka yang nyaman akan menciptakan lingkungan yang mendukung produktivitas dan kesejahteraan mahasiswa.

Beberapa mahasiswa UIN RIL memberikan tanggapan dengan adanya pembangunan kanopi oleh pihak kampus.

Hariansyah Muhammad Siddik salah satu mahasiswa UIN RIL yang ia merasa senang dengan adanya pembangunan kanopi di UIN sangat berguna dan bermanfaat bagi lingkungan UIN RIL khususnya untuk pejalan kaki sebagai pelopor utama green campus.

Selain itu, Putrie Anindya Salsabella mahasiswa UIN RIL lainnya memberi tanggapan bahwa dengan dibangunnya kanopi bukan hanya sebagai tempat meneduh, melainkan memberikan kesan yang estetik terhadap lingkungan kampus.

Lalu AM (nama samaran) salah satu mahasiswa UIN RIL memberi harapan. Ia berharap agar pembangunan kanopi tidak luput akan pemeliharaan secara berkala untuk menjaga kualitas kanopi. 

Namun saya rasa hal ini hanya meninggalkan kenyamanan, untuk mencapai manfaat optimal, penting untuk memastikan bahwa pembangunan kanopi mempertimbangkan faktor-faktor seperti kualitas bahan, keberlanjutan, dan integrasi desain dengan arsitektur kampus. Keberlanjutan juga perlu diperhatikan dengan pemilihan material ramah lingkungan dan perawatan yang rutin agar kanopi dapat bertahan lama dan tetap memberikan manfaat jangka panjang.

Secara keseluruhan, pembangunan kanopi di kampus adalah langkah positif yang tidak hanya meningkatkan kenyamanan fisik, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan kampus yang lebih ramah lingkungan dan mendukung kesejahteraan komunitas akademik.

Karya: Presence
Editor: Indepth

Senin, 20 Januari 2025

TELAH TERBIT BULETIN EDISI 8 TAHUN 2024

 [ Buletin ]




Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Pers Mahasiswa! ✊🏻

UKM PersMa Raden Intan dengan bangga mempersembahkan terbitan pada kepengurusan 2023/2024 yaitu Buletin Edisi 8 Tahun 2024 dengan judul “Klinik Kesehatan Menyongsong Era Perubahan”. 

Dalam edisi kali ini, kami akan membahas topik menarik yang menjadi sorotan di lingkungan kampus yaitu: "Gedung Klinik Kesehatan" pertama yang hadir di UIN Raden Intan Lampung. 

Selain itu, di dalam Buletin ini terdapat karya lain berupa Feature, Opini, Artikel, Cerpen, dan Puisi.

Jadi tunggu apalagi, yuk cek terbitan terbaru kami melalui tautan di bawah ini 👇👇👇

Rabu, 15 Januari 2025

WASPADALAH HMPV MULAI MENYEBAR, CEGAH DAN KENALI GEJALANYA

[ Artikel ]


Sumber: health.detik.com

China saat ini tengah menjadi perhatian dunia dengan merebaknya kasus infeksi Human Metapneumovirus (HMPV). Dilansir dari kemkes.go.id, Virus HMPV adalah virus pernapasan yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut. Virus ini tidak hanya ditemukan di China tetapi sudah menyebar di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Meski terdengar mengkhawatirkan, Dilansir dari Metrotvnews.com, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin menyatakan, HMPV merupakan virus yang sudah lama dikenal dalam dunia medis. HMPV ini pertama kali ditemukan oleh peneliti di Belanda pada tahun 2001 dan termasuk dalam keluarga Pneumoviridae, yang memiliki kaitan erat dengan Respiratory Syncytial Virus (RSV). Hal ini berbeda dengan Covid-19 yang merupakan virus baru dengan penyebab dan pola penyebaran yang awalnya tidak diketahui.

Biasanya, HMPV lebih aktif selama musim dingin hingga awal musim semi, yang menyebabkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan pada periode tersebut. HMPV dapat menyerang semua kelompok usia, tetapi tidak selalu berbahaya bagi individu dewasa yang sehat. Anak-anak, lansia, serta orang dengan sistem imun yang lemah atau penyakit kronis, lebih rentan mengalami komplikasi serius akibat infeksi ini. 

Gejala infeksi HMPV sering menyerupai flu biasa, seperti:  
- Batuk, pilek, atau hidung tersumbat.  
- Demam.  
- Sakit tenggorokan.  
- Sesak napas.  
- Kelelahan dan kehilangan nafsu makan.
  
Namun, infeksi ini dapat berkembang menjadi pneumonia atau bronkiolitis dalam kasus tertentu, terutama pada kelompok rentan. Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus untuk mencegah infeksi HMPV. 

Tetapi, kita dapat mengurangi risiko penularan dengan langkah-langkah berikut:  
1. Cuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah menyentuh benda yang banyak disentuh orang lain.  
2. Hindari menyentuh wajah jika tangan belum bersih.  
3. Gunakan masker, terutama di tempat umum atau saat berada di sekitar orang yang sakit.  
4. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan tisu atau siku bagian dalam.  
5. Bersihkan permukaan benda yang sering disentuh, seperti meja, gagang pintu, atau ponsel, dengan disinfektan.  
6. Tingkatkan imunitas tubuh dengan menjaga pola makan sehat, olahraga teratur, istirahat yang cukup, dan mengonsumsi air yang cukup.  
7. Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit untuk meminimalkan risiko tertular.  
8. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala yang memburuk, seperti sesak napas atau demam tinggi.  

HMPV memang bukan ancaman baru, tetapi harus waspada terhadap penularannya. Segera memeriksakan diri jika muncul gejala. Kita dapat melindungi diri dan orang lain dari risiko infeksi virus ini. Pencegahan selalu menjadi langkah terbaik untuk melindungi kesehatan diri dan mencegah penyebaran penyakit di lingkungan sekitar.

Karya: Adline 
Editor: Indepth