Minggu, 09 Februari 2025

EMPAT FAKTA PENTING HARI PERS NASIONAL

[ Artikel ]


Sumber: Pinterest

Hari Pers Nasional (HPN) merupakan peringatan tahunan sebagai bentuk kehormatan terhadap peran penting pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pers berperan penting dalam menyebarluaskan informasi, menjembatani komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, membentuk opini publik, serta mendorong transparansi dan keterbukaan informasi. Keberadaan pers yang bebas dan bertanggung jawab menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung masyarakat agar lebih kritis, sadar, dan aktif dalam kehidupan sosial.

Dilansir melalui laman antaranews.com, HPN diselenggarakan setiap tahun di provinsi yang berbeda secara bergilir, dengan melibatkan berbagai pihak termasuk insan pers, masyarakat, dan pemerintah daerah sebagai tuan rumah. Landasan utama dari peringatan ini adalah membangun sinergi antara pers, masyarakat, dan pemerintah demi mewujudkan kemajuan bangsa.

Lebih dari sekadar perayaan, HPN menjadi momentum penting untuk menghargai perjuangan pers dalam menjamin hak masyarakat atas informasi yang akurat dan bertanggung jawab. Peringatan ini juga mengingatkan kita akan perjalanan panjang pers di Indonesia dalam memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Oleh karena itu, memahami beberapa fakta penting mengenai Hari Pers Nasional dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang peran pers dalam kehidupan bernegara.

Empat Fakta Penting Hari Pers Nasional:

1. Peran Penting Wartawan Sebagai Aktivis Pemberitaan

Peran wartawan dalam sejarah Indonesia sangatlah signifikan, terutama sebagai Aktivis Pemberitaan yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berperan dalam membangkitkan kesadaran nasional dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Dikutip melalui laman dp3a.semarangkota.go.id, wartawan pada masa perjuangan tidak hanya bertugas melaporkan berita tetapi juga terlibat secara aktif dalam perlawanan terhadap penjajahan melalui pemberitaan. Dalam berbagai era, wartawan tetap berada di garis terdepan dalam mengungkap kebenaran meskipun menghadapi ancaman dan intimidasi. Sebagaimana suara rakyat mereka memainkan peran penting dalam memajukan demokrasi dan menjaga kedaulatan negara.

2. Lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia

Dikutip melalui laman liputan6.com, peringatan HPN berawal dari peristiwa bersejarah pada tanggal 9 Februari 1946, ketika para wartawan Indonesia berhasil membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), organisasi ini menjadi tonggak kebangkitan pers nasional setelah Indonesia merdeka. Pada saat itu, pers masih menghadapi tantangan besar termasuk tekanan dari pemerintah dan kurangnya wadah resmi bagi para jurnalis. PWI didirikan dengan tujuan memperjuangkan kebebasan pers dan profesionalisme jurnalis, serta membangun solidaritas diantara insan pers.

3. Hasil Kongres PWI Ke-28

Pada tahun 1978, Kongres PWI Ke-28 diadakan di Padang, Sumatera Barat. Kongres tersebut menghasilkan beberapa keputusan penting yang salah satunya adalah penetapan HPN. Usulan tersebut bertujuan untuk memperingati peran pers dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan memperkuat demokrasi. 

4. Diresmikan pada era Orde Baru (Pimpinan Soeharto)

Setelah melalui proses yang panjang, HPN akhirnya diresmikan oleh pemerintah pada era Presiden Soeharto. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia (RI) Nomor 5 Tahun 1985, tanggal 9 Februari secara resmi ditetapkan sebagai HPN. Keputusan ini ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada tanggal 25 Januari 1985.

Dengan memahami empat fakta penting tentang HPN, kita dapat lebih menghargai peran pers dalam memperjuangkan hak masyarakat atas informasi yang akurat dan bertanggung jawab. Sebagai salah satu pilar demokrasi, pers memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan berita yang objektif dan netral demi mencerdaskan masyarakat.

Oleh karena itu, marilah kita dukung kebebasan pers yang bertanggung jawab dan terus berperan dalam menjaga demokrasi di Indonesia. Selamat Hari Pers Nasional, semoga peringatan ini menjadi inspirasi bagi insan pers untuk terus berkarya dan menyajikan berita yang berkualitas bagi masyarakat.

Karya: Soft 

Editor: Indepth

Senin, 03 Februari 2025

TELAH TERBIT E-KORAN EDISI JANUARI TAHUN 2025

[ E-Koran ]



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Pers Mahasiswa! ✊🏻

Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat koran dapat diakses dimana saja dan kapan saja melalui internet. Maka dengan itu, UKM PersMa Raden Intan dengan bangga kembali menerbitkan "𝗘-𝗞𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗘𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗜" tahun 2025.

Baca E-Koran selengkapnya:

https://bit.ly/E-KoranedisiJanuari2025

Kamis, 30 Januari 2025

WAREK III UIN RIL KUKUHKAN PENGURUS UKM PERSMA RI PERIODE 2024/2025

[ Berita ]

Sumber: Resti


Raden Intan — Wakil Rektor (Warek) III Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) mengukuhkan pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Raden Intan (PersMa RI) periode 2024/2025. (30/01/25)

Dilaksanakan di Gedung Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), kegiatan ini mengusung tema "Mengembangkan Legasi Kepimpinan dengan Membangun PersMa RI Lebih Independen dan Evaluatif".

Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag selaku Warek III bidang Kemahasiswaan UIN RIL dalam sambutannya menyampaikan, berita yang disebar tidak hanya masyarakat UIN yang baca namun dapat ke mancanegara.

"Berita itu bukan hanya di UIN yang baca tapi bahkan bisa nasional dan sampai ke luar negeri. Maka dari itu perlu konfimasi, kejelasan, dan etika dalam membuat berita," jelas beliau. 

Tak hanya itu, beliau turut berharap agar UKM PersMa RI selalu bersinergi, berkreasi, dan berinovasi dalam menumbuh kembangkan Kampus. Selain itu, memberikan informasi yang informatif, edukatif, dan inspiratif.

Siti Hanny Fahmoza selaku anggota UKM Bahasa merasa terkesan dan berharap UKM PersMa dapat menjadi wadah dalam mengekspresikan pikiran dan ide.

"Semoga UKM PersMa menjadi wadah ekspresi yang efektif bagi anggotanya untuk mengekspresikan pikiran, ide dan karya-karya yang dihasilkan, serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa tentang isu-isu penting," harapnya.


Rep: Adline

Editor: Indepth

BANGUN KEPEMIMPINAN INDEPENDEN, UKM PERSMA RI GELAR SERTIJAB, OPUS, DAN RAKER

[ Berita ]


Sumber: Adline


Raden Intan — Membangun kepemimpinan independen, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Raden Intan (PersMa RI) gelar Serah Terima Jabatan (Sertijab), Orientasi Pengurus (Opus), dan Rapat Kerja (Raker) tahun 2025. (Kamis, 30/01/25)

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) dengan mengusung tema "Mengembangkan Legasi Kepemimpinan dengan Membangun PersMa RI Lebih Independen dan Evaluatif".

Dengan turut dihadiri oleh Prof. Dr. H. Idrus Ruslan, M.Ag., selaku Wakil Rektor (Warek) III bidang Kemahasiswaan UIN RIL, Sri Wahyuni, M.Sos., selalu pembina UKM PersMa RI, Perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) lingkup UIN RIL, Alumni, Demisioner, dan 21 anggota UKM PersMa RI.

Dalam sambutannya, Pembina UKM PersMa RI berharap agar pengurus baru memperhatikan kualitas berita sesuai dengan kemajuan teknologi.

"Saya berharap terhadap para pengurus baru hari ini teknologi kita sudah maju yang harus ikut memperhatikan kepada kualitas berita hari ini karena semua orang bisa jadi wartawan ataupun jurnalis menetralisasi berbagai macam-macam undang-undang, dan kode etik jurnalistik," harapnya. 

Ugas Gausul Anam selaku ketua pelaksanaan menyampaikan dalam laporannya, acara ini bertujuan agar kepemimpinan UKM PersMa RI lebih mandiri dan dapat mengevaluasi kepengurusan tahun lalu sehingga dapat dirancang lebih baik.

Arzaq Kafassoba selaku Pemimpin Umum (Pemum) yang terpilih periode 2024/2025 merasa senang dan berharap agar kepengurusan ini kerja sama tim dan solidaritasnya semakin berkembang.

"Harapan saya yang pastinya kerja sama antar tim serta solidaritas yang makin berkembang, serta tumbuh, rumah yang kita inginkan itu kita wujudkan bersama dan yang pastinya visi-misi yang kita cita-citakan itu tercapai," harapnya.

Rep: Adline

Editor: Indepth

Rabu, 29 Januari 2025

PERAYAAN IMLEK DI INDONESIA, BENTUK PERJUANGAN GUS DUR MELAWAN DISKRIMINATIF ETNIS TIONGHOA

 [ Artikel ]


Sumber: Pinterest

Imlek merupakan perayaan Tahun Baru Cina yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perayaan ini penuh dengan tradisi dan simbolisme yang unik, dan biasanya jatuh pada bulan Januari atau Februari menurut kalender Gregorian. Perayaan Imlek di Indonesia tak jauh dari peran Gus Dur dalam memperjuangkan kebebasan untuk etnis Tionghoa. 

Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, adalah sosok yang dikenal luas sebagai tokoh pluralisme dan kemanusiaan di Indonesia. Salah satu gelar yang disematkan pada beliau adalah Bapak Tionghoa Indonesia. Gelar ini bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari perjuangannya yang konsisten atas nama kemanusiaan dalam memperjuangkan hak-hak kaum minoritas, termasuk etnis Tionghoa, yang selama bertahun-tahun mengalami diskriminasi di Indonesia. Dikutip dari Kompas.com pada tahun 2004, gelar tersebut diberikan langsung oleh Perkumpulan Sosial Rasa Dharma di Kleteng Tay Kek Sie, Semarang, Jawa Tengah. Gelar itu tak berlebihan mengingat beberapa sumbangsih Gus Dur untuk masyarakat Tionghoa yang tidak mendapat keleluasaan di masa pemerintahan Orde Baru.

Dilansir dari validnews.id, salah satu diskriminasi yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia adalah adanya Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 tahun 1967, yang membatasi kegiatan budaya dan adat istiadat Tionghoa. Kebijakan ini telah membelenggu ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Akar persoalan ini bermula pada tahun 1966, ketika Indonesia memasuki babak baru dalam sejarah politiknya pasca peristiwa G30S/PKI tahun 1965, yang membuat situasi politik negara menjadi sangat tegang. Selama lebih dari tiga dekade pemerintahan Orde Baru, perayaan Imlek yang merupakan salah satu tradisi paling meriah dalam budaya Tionghoa terpaksa dilakukan secara tersembunyi. Semua ini dilakukan dalam upaya untuk menyamakan etnis Tionghoa dengan budaya dominan.

Dengan keberanian yang luar biasa ketika Gus Dur dilantik menjadi Presiden Indonesia yang keempat pada 1999 beliau mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 tahun 1967. Tidak hanya berhenti pada pencabutan kebijakan diskriminatif, Gus Dur juga mengambil langkah progresif lainnya dengan menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Selain memperjuangkan hak-hak budaya, Gus Dur juga mendorong agar etnis Tionghoa lebih diterima dalam struktur sosial dan politik Indonesia. Ia berulang kali menyatakan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian integral dari bangsa Indonesia, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti warga negara lainnya. Gus Dur menentang stigma dan diskriminasi yang selama ini melekat pada komunitas tersebut dan mendukung integrasi mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

Langkah-langkah Gus Dur ini mendapat apresiasi luas, baik dari komunitas Tionghoa maupun masyarakat umum di Indonesia. Perjuangannya mencerminkan visi besar untuk menciptakan Indonesia yang inklusif, di mana setiap kelompok etnis, agama, dan budaya dapat hidup berdampingan dengan damai. Gelar "Bapak Tionghoa Indonesia" yang disematkan padanya menjadi bukti nyata penghormatan terhadap jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Gus Dur melihat keberagaman budaya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan bangsa yang perlu dirayakan dan dijaga.


Karya: Content 

Editor: Indepth

Senin, 27 Januari 2025

CAHAYA OBOR DAN PERJALANAN KE LANGIT

[ Cerpen ]

Sumber: Pinterest

Malam itu, Kampung Sukatani tampak lebih terang dari biasanya. Barisan obor menyala di tangan warga desa yang berjalan mengelilingi kampung, sambil melantunkan sholawat Nabi dengan semangat. Di barisan depan, Hasan, Salma, dan Dika memegang obor mereka dengan penuh kebanggaan meski ada sedikit keluhan juga.

“Eh, ini obor kok makin lama makin berat ya? Apa apinya tambah gede?” keluh Dika sambil mencoba mengistirahatkan tangannya.
Hasan nyengir sambil menoleh ke arahnya. “Itu namanya efek kurang olahraga, Dik.”
Salma langsung menyahut, “Iya, tangan kamu tuh kayak lidi. Bawa obor aja ngos-ngosan.”
“Yah, enggak usah nyindir dong!” Dika pura-pura cemberut.

Setelah mengelilingi kampung, mereka tiba di balai desa. Obor-obor dipadamkan satu per satu, diganti dengan lampu minyak yang memancarkan cahaya hangat. Anak-anak segera duduk melingkar di atas tikar yang sudah digelar. Di tengah lingkaran itu, Ustadz Ahmad duduk bersila dengan senyum ramah.

“Assalamualaikum, anak-anak,” sapa Ustadz Ahmad. “Tadi keliling kampungnya capek?”
“Capek, Ustadz,” jawab Hasan. “Seru sih, tapi tangan saya kayak habis angkat barbel,” keluh Dika sambil memijat lengannya.
“Ah, itu tandanya kamu harus sering ikut bantu ibu ngangkat galon di rumah,” balas Ustadz Ahmad bercanda. Semua anak tertawa.

Setelah suasana mencair, Ustadz Ahmad mulai berbicara. “Anak-anak, malam ini kita memperingati Isra Mi’raj. Ada yang tahu apa itu Isra Mi’raj?”
Hasan langsung menjawab, “Isra itu perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, ya, Ustadz?”
“Betul sekali, Hasan. Dan Mi’raj adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa naik ke langit, sampai Sidratul Muntaha. Semuanya terjadi dalam satu malam saja.”

Salma mengangkat tangan. “Ustadz, kok bisa dalam satu malam? Kan jauh banget.”
Ustadz Ahmad tersenyum. “Itu mukjizat dari Allah. Nabi Muhammad dibawa oleh makhluk bernama Buraq. Buraq ini bentuknya seperti kuda putih, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari unta. Dia punya sayap di kedua sisinya, dan langkahnya sejauh mata memandang.”

Dika tampak kagum. “Wah, keren banget. Kalau aku punya Buraq, aku pasti enggak bakal telat ke sekolah lagi!”
Salma langsung menyahut, “Yakin? Kalau kamu, Buraqnya mungkin kabur duluan, Dik, enggak kuat bawa kamu.”
Semua anak tertawa lagi, termasuk Ustadz Ahmad. “Jadi, Dika harus sering makan sayur biar enggak bikin Buraq keberatan.”

Setelah tawa reda, Ustadz Ahmad melanjutkan. “Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad memimpin salat bersama para nabi. Setelah itu, Malaikat Jibril membawa Nabi naik ke langit. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan para nabi lainnya.”

Hasan penasaran. “Nabi ketemu siapa aja, Ustadz?”
“Di langit pertama, Nabi bertemu Nabi Adam. Nabi Adam menunjukkan wajah-wajah keturunannya; ada yang bersinar terang, ada yang gelap. Itu melambangkan amal baik dan buruk manusia.”
Salma bertanya, “Kalau kita, wajah kita gimana, Ustadz?”
“Kalau kalian rajin salat dan baik sama orang lain, wajah kalian pasti bersinar di sana nanti." 

Ustadz Ahmad melanjutkan “Di langit kedua, Nabi bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ketiga, beliau bertemu Nabi Yusuf, yang sangat tampan.”

“Di langit keempat, Nabi bertemu Nabi Idris. Di langit kelima, ada Nabi Harun. Di langit keenam, Nabi bertemu Nabi Musa yang banyak memberi nasihat kepada Nabi Muhammad. Dan di langit ketujuh, beliau bertemu Nabi Ibrahim yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur. Itu adalah tempat ibadah para malaikat.”

Dika bertanya lagi, “Kalau Sidratul Muntaha itu apa, Ustadz?”
“Sidratul Muntaha adalah tempat paling tinggi yang dicapai makhluk. Di sana, Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Allah SWT. Nabi mendapat perintah salat. Awalnya, salat diwajibkan lima puluh kali sehari.”
“Lima puluh kali?!” Dika terbelalak. “Kalau gitu, tiap lima menit kita salat dong, Ustadz. Enggak sempat jajan lagi.”
Semua tertawa. Ustadz Ahmad menjelaskan sambil tersenyum, “Betul. Tapi Nabi Musa menyarankan Nabi Muhammad untuk meminta keringanan kepada Allah. Akhirnya, setelah beberapa kali memohon, salat diwajibkan hanya lima kali sehari. Tapi pahalanya tetap setara dengan lima puluh kali.”

Salma mengangguk. “Oh, jadi itu kenapa kita wajib salat lima waktu?”
“Iya, Salma. Salat itu hadiah dari Allah. Itu cara kita mendekatkan diri kepada-Nya. Jangan pernah malas salat, ya?”

Malam semakin larut. Ustadz Ahmad mengakhiri ceritanya dengan pesan mendalam. “Anak-anak, perjalanan Isra Mi’raj ini mengajarkan kita banyak hal. Pertama, jangan pernah ragu akan kebesaran Allah. Kedua, jagalah salat kalian karena itu hadiah istimewa dari Allah untuk kita.”

Saat berjalan pulang, Hasan berkata pelan, “Malam ini aku jadi sadar, salat itu ternyata istimewa banget.”
“Iya, dan Nabi Muhammad hebat banget. Kita harus lebih cinta sama Nabi,” tambah Salma.
Dika mengangguk. “Besok kita bangun Subuh bareng yuk. Jangan ada yang bolos, ya.”

Ketiganya tertawa kecil sambil melangkah di bawah cahaya bintang. Obor mereka sudah padam, tapi cahaya pelajaran malam itu terus menerangi hati mereka.

Karya: Sight 
Editor: Indepth

Kamis, 23 Januari 2025

TELAH TERBIT ANTOLOGI EDISI III TAHUN 2024

 [ Antologi ]



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Pers Mahasiswa! 

UKM PersMa Raden Intan dengan bangga mempersembahkan terbitan pada kepengurusan 2023/2024 yaitu Antologi Edisi III Tahun 2024 dengan judul "Vidyodaya Mandala (Lingkaran Ilmu)".

Dalam Antologi Puisi ini kami menyajikan karya sastra berupa Puisi mengenai seluk beluk dunia pendidikan yang di tulis langsung oleh Anggota UKM PersMa Raden Intan.

Yuk lihat terbitan terbaru kami melalui link di bawah ini 👇🏻

https://bit.ly/AntologiEdisiIIIPersMaRI