Rabu, 16 April 2025

ANTUSIAS MAHASISWA WARNAI BEDAH BUKU "KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS" BERSAMA J.S. KHAIREN

[ Berita ]


Sumber: Della


Raden Intan — Antusias mahasiswa warnai bedah buku "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" bersama J.S. Khairen dalam kegiatan Culture Literary Festival and World Book Day 2025. (Rabu, 16/04/25)

Kegiatan ini menghadirkan J.S. Khairen selaku penulis dalam acara Bedah Buku & Bincang Literasi "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" yang diadakan oleh Organisasi Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK). 

Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna (GSG) K.H Ahmad Hanafiyah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) ini dimulai dari pukul 08.00 WIB s.d. selesai, dan dihadiri sebanyak 392 peserta dari kalangan mahasiswa juga khalayak umum.

Acara ini turut dihadiri oleh Ahmad P. Subarkah selaku Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung dan membawa 3 personil dari BI untuk menyampaikan sosialisasi tentang Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebelum acara bedah buku dimulai.

Turut dihadiri juga oleh Dr. H. Rosidi, M. Ag., selaku Wakil Dekan (Wadek) 3 FDIK, Mirawati Dewy selaku Ketua Senat Mahasiswa (Sema), dan Muhammad Syahrul selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) FDIK.

J.S. Khairen turut mengapresiasi antusiasme para peserta dalam acara Bedah Buku, sebab saat acara sudah berlangsung selama 30 menit masih ada peserta yang ingin bukunya ditandatangani. Di akhir, beliau juga berpesan untuk setiap mahasiswa agar membaca buku setidaknya 1 buku fiksi untuk hati dan 1 buku non-fiksi untuk kepala. 

Muhammad Zuhdi Salim Wahid, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung (UML) yang ikut serta meramaikan acara ini mengaku tertarik dan sangat antusias dengan adanya kegiatan ini.

“Saya suka membaca dan kebetulan penulisnya adalah favorit saya. Saya juga jadi mikir ulang. Awalnya menganggap kuliah cuma formalitas, ternyata ada banyak tujuan dan pengalaman yang bisa didapat,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Sarah Nur Laila Indriyani dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Ia mengatakan keikutsertaannya didasari kekaguman terhadap penulis.

“Saya suka tulisan beliau yang menyentuh dan penuh perenungan. Sayang kalau dilewatkan. Setelah baca bukunya, saya juga mulai mengubah mindset saya soal kuliah dan hidup setelah lulus," ungkapnya.

Rep: Ratu & Adis

Editor: Indepth


Selasa, 15 April 2025

DEKAN FDIK UIN RIL BERIKAN APRESIASI ATAS TERLAKSANANYA ACARA CULTURE LITERARY FESTIVAL

[ Berita ]


Sumber: Panitia Culture Literary Fest
Sambutan oleh Prof. Dr. H. Abdul Syukur M.Ag., selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK)


Raden Intan — Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) berikan apresiasi atas terlaksananya acara Culture Literary Festival. (Selasa,15/04/25)

Agenda ini mengusung tema "Ngulik Literasi Dare To Dream, Be Inovatif" dan dilaksanakan di Gedung Serbaguna (GSG) yang akan berlangsung selama 4 hari terhitung sejak 15 —18 April 2025.

Acara ini turut dihadiri oleh Prof. Dr. Idrus Ruslan, M.Ag., selaku Wakil Rektor (Warek) III bidang Kehasiswaan dan Kerjasama, Prof. Dr. H. Abdul Syukur M.Ag., selaku Dekan FDIK, dan Mirawaty Dewi Ketua Senat Mahasiswa (Sema) FDIK. 

Kemudian dihadiri juga oleh Drs. Muhammad Firsada M.Si., selaku Sekertaris Daerah (Sekda) Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, S.H.I., selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), perwakilan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan 80 peserta talkshow, serta mahasiswa FDIK. 

Acara ini dilaksanakan sebagai ajang pengembangan literasi, kreativitas, dan inovasi mahasiswa yang dibuka dengan sambutan dari Dekan FDIK yang mengajak seluruh peserta untuk berani bermimpi besar dan menghasilkan karya-karya inovatif yang berdampak positif. 

Dalam sambutannya, Dekan FDIK meyampaikan apresiasinya pada acara Culture Literary Festival and World Book 2025. 

"Acara ini merupakan contoh nyata dari semangat dan dedikasi mahasiswa dalam mengembangkan potensi dan kreativitas. Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan komitmen yang telah ditunjukkan oleh seluruh panitia dan peserta semoga dengan adanya acara ini bisa memotivasi dan meningkatkan literasi generasi muda untuk sosial dan budaya," ujarnya

Adapun Lutfi Nabila Amlina selaku ketua pelaksana menyampaikan ucapan terima kasih yang sangat mendalam kepada pihak kampus. 

"Saya mengucapkan banyak terima kasih yang sangat mendalam pada pihak kampus dan tak lupa saya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap panitia yang berkontribusi di acara ini dan mahasiswa yang turut hadir untuk menyukseskan acara pembukaan ini," ujarnya

Rep: Syifa & Salsa 

Editor: Indepth

HADIRKAN BERBAGAI NARASUMBER, ORMAWA FDIK GELAR TALK SHOW CULTURE LITERARY FESTIVAL 2025

[ Berita ]


Sumber: Salsa


Bandar Lampung — Hadirkan berbagai narasumber, Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) gelar Talk Show Culture literary Festival. (Selasa, 15/4/2025)

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) dengan mengusung tema "Segala Sektor dalam Bayang-Bayang New Orba, Bagaimana Dengan Sektor Pendidikan?", yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem pendidikan saat ini dan dampaknya terhadap kebebasan akademik.

Acara ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh inspiratif diantaranya Fatikhatul Khoiriyah, S.H.I, M.H. selaku Politis/Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Dr. H. Wahyu Iryana selaku Akademisi UIN RIL dan Pengamat Politik, Sapriyansah, S.Sos., selaku Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Turut dihadiri juga oleh Ferri Amsari, S.H,, M.H, selaku Pakar Hukum Tata Negara Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Andalas dan Dian Wahyu Kusuma selaku Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung sebagai narasumber dan pemateri serta diikuti sebanyak 80 peserta talkshow. 

Fathikatul Khoriyah menjelaskan bahwa sebagai generasi muda harus melakukan pergerakan perjuangan.

"Kita sebagai anak muda harus melakukan pergerakan perjuangan mahasiswa dengan melakukan perubahan untuk indonesia. Salah satu bentuk perubahan dan pergerakan saat ini melalui era digital yang tidak mengharuskan mengambil tindakan turun kejalan tetapi membawa dampak yang signifikan," tuturnya.

Selanjutnya Sapriansyah mengatakan bahwa mahasiswa sangatlah penting untuk membangun kesadaran yang kritis dan berintegritas. Adanya solidaritas mahasiswa untuk saling menguatkan satu sama lain dan harus memiliki keberanian untuk menghadapai new orba dan mengantisipasi orde baru yang sedang bangkit.

Adapun Nanda, Salah satu Mahasiswi dari Program Studi (Prodi) Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) menyampaikan bahwa ia berharap dengan adanya talkshow hari ini mahasiswa dapat lebih kritis dan bijak. 

“Saya berharap dengan adanya materi tentang sistem pendidikan ini dapat memotivasi mahasiswa untuk mengembangkan diri menjadi kritis dan bijak dalam mengolah suatu informasi dan memiliki sikap berani mengungkapkan kebenaran," tuturnya.

Reporter: Khoirunissa Salsa

Editor: Indepth

Minggu, 06 April 2025

TELAH TERBIT E-KORAN EDISI MARET TAHUN 2025

[ E-Koran ]



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Pers Mahasiswa! ✊🏻

Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat koran dapat diakses dimana saja dan kapan saja melalui internet. Maka dengan itu, UKM PersMa Raden Intan dengan bangga kembali menerbitkan "𝗘-𝗞𝗼𝗿𝗮𝗻 𝗘𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗜𝗜𝗜" tahun 2025.

Baca E-Koran selengkapnya:

https://bit.ly/E-KoranEdisiMaret2025

Minggu, 30 Maret 2025

HARMONI DALAM PERBEDAAN

[ Cerpen ]


Sumber: Artificial Intelligence

Langit di Kabupaten Bhaskara mulai gelap. Angin sore membawa aroma tanah basah setelah hujan ringan tadi siang. Di teras rumah bercat krem, Ardana duduk seraya meluruskan kakinya. Sementara Nawasena menggoyangkan kakinya dengan santai. Di antara mereka, Rakha, bocah enam tahun yang pipinya masih belepotan sisa kue, sibuk menyeruput susu dari gelasnya.

Tiba-tiba sebuah suara seolah menghantam gendang telinga mereka. Bunyi petasan meledak di jalan depan rumah membuat mereka kaget setengah mati. Rakha loncat kaget, hampir menumpahkan susunya.

"ASTAGA! SIAPA ITU?!"

Ardana terkekeh, menebak pasti anak-anak sekitar yang mulai heboh menjelang lebaran. Dari dalam rumah sebelah, suara Pak Iwan terdengar menggelegar, memprotes kebisingan.

Rakha merapat ke Nawasena, wajahnya kebingungan. Nawasena tersenyum kecil, menjelaskan bahwa besok Nyepi, jadi wajar kalau Pak Iwan ingin suasana lebih tenang. "Besok hari raya Nyepi, Pak Iwan pasti mau tenang karena ini malam Catur Brata," jelas Nawasena.

Mendengar itu, Rakha tiba-tiba teringat sesuatu dan mengernyit. "Catur Brata? Catur yang sering dimainin Paman Sangkuni yang bunda tonton itu ya?"

Ardana hampir terbatuk saking tertawanya, sementara Nawasena ikut tersenyum. "Bukan, Cil! Kebanyakan nonton Mahabharata nih kamu, jadi taunya catur dadu aja!"

Rakha cemberut, membuat Nawasena akhirnya menjelaskan. "Catur Brata itu empat pantangan utama saat Nyepi. Kita gak boleh menyalakan api atau listrik, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan. Makanya harus tenang."

Rakha membelalakkan mata saat menyadari kalau itu berarti ia tidak bisa nonton televisi atau bermain ponsel. Kepanikannya semakin menjadi, seolah-olah tidak bisa hidup tanpa hiburan. Namun, sebelum ia sempat mengeluh lebih jauh, suara petasan kembali meledak, membuatnya spontan memeluk kaki Nawasena dan berteriak menyuruh orang-orang berhenti.

Ardana hanya menepuk bahunya dengan santai, meyakinkan bahwa besok tidak akan ada yang berisik karena aturan Nyepi. Rakha mendecak kesal, lalu berjanji jika ada yang tetap menyalakan petasan, ia sendiri yang akan menyuruh mereka diam.

Beberapa menit setelahnya, adzan Isya berkumandang. Ardana bangkit dan meregangkan badannya. Ia hendak bersiap-siap untuk tarawih dan menanyakan apakah Nawasena akan langsung pulang.

Nawasena mengangguk, mengingat ia juga harus bersiap menjalani Nyepi. Namun sebelum benar-benar pergi, Rakha menarik tangannya dan menatapnya dengan serius.

"Kak Nawa, kalau besok orang-orang tetap main petasan, Kakak marah nggak?"

Nawasena menatap bocah itu lembut, lalu menggeleng pelan. "Aku nggak marah, Cil. Tapi sedih."

Rakha terdiam, menunggu penjelasan.

"Soalnya, toleransi itu artinya saling menghormati," ujar Nawasena. "Aku nggak bisa marah kalau ada yang lupa, tapi kalau mereka ngerti terus tetap ganggu, berarti mereka nggak peduli sama orang lain."

Rakha tampak berpikir, lalu akhirnya mengangguk mantap. Ia berjanji tidak akan mengganggu Kak Nawa besok dan memilih bermain di dalam rumah saja.

Saat hendak berpisah, Ardana masuk ke dalam rumah sebentar, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik kecil. Ia menyerahkannya pada Nawasena dengan senyum simpul.

"Tadi Ibu nitip ini buat kamu," ucapnya.

Nawasena membuka kantong itu. Ada kurma, sepotong dodol, dan sekotak kecil kue kering di dalamnya.

"Kata Ibu, berbagi itu nggak harus nunggu Lebaran. Buat buka puasa lusa nanti, kamu bisa makan ini," lanjut Ardana.

Nawasena tersenyum lebar, merasa hangat oleh perhatian kecil itu. "Makasih, Dhana. Besok aku nggak bisa ngomong sama kamu, jadi sebelum puasa bicara dimulai... jaga diri baik-baik ya, jangan nakal!"

Mereka tertawa sebelum akhirnya berpisah. Besok, Nawasena akan menjalani Nyepi dalam keheningan, sementara Ardana menyambut Lebaran. Tapi malam ini, mereka duduk berdampingan di bawah langit yang sama, berbagi cerita, berbagi tawa, dan yang paling penting saling menghormati serta menghargai satu sama lain.

Karya: Sight
Editor: Indepth

Sabtu, 29 Maret 2025

USMAR ISMAIL, SOSOK DI BALIK BAPAK FILM NASIONAL

[ Artikel ]


Sumber: Kuasa.kata.com


Usmar Ismail adalah sosok penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Lewat film-filmnya, ia tidak hanya membentuk identitas perfilman nasional, tetapi juga menjadi media untuk menyuarakan realitas kehidupan masyarakat pasca kemerdekaan. Kontribusinya yang besar dalam dunia perfilman membuatnya dijuluki sebagai Bapak Film Nasional. Dikutip dari kompas.com, selain dijuluki sebagai Bapak Film Nasional, pada 10 November 2021, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Usmar Ismail, seorang sutradara film, sastrawan, wartawan, dan pejuang Indonesia. Pemberian gelar ini dilakukan secara resmi di Istana Negara berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 109/TK/TH 2021 tanggal 25 Oktober 2021.

Usmar Ismail lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatera Barat dan wafat pada 2 Januari 1971 di usianya yang hampir genap lima puluh tahun. Usmar menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Indonesia, ia melanjutkan studi ke University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat. Sejak muda, ia aktif di dunia sastra dan teater. Ia mendirikan kelompok Sandiwara Maya pada tahun 1943 bersama abangnya, El Hakim, dan tokoh-tokoh sastra lainnya seperti Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin. Kelompok ini dianggap sebagai awal mula lahirnya teater modern di Indonesia.

Pasca kemerdekaan, Usmar berkarier sebagai wartawan dan turut mendirikan surat kabar Rakyat, harian Patriot, serta bulanan Arena. Namun, minatnya pada dunia film semakin kuat. Hingga pada tahun 1950 ia mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI), yang menjadi salah satu langkah awal dalam membangun industri film nasional. Dilansir dari p2k.stekom.ac.id, Usmar mendirikan PERFINI, rumah produksi pertama yang sepenuhnya dikelola oleh orang Indonesia tanpa campur tangan asing. 

Salah satu karya pentingnya adalah Darah dan Doa, yang menjadi film pertama diproduksi oleh PERFINI. Film ini seringkali dianggap sebagai film Indonesia "nasional" pertama karena merupakan film yang disutradarai oleh orang Indonesia asli, diproduksi oleh perusahaan film Indonesia, dan diambil gambarnya di Indonesia. Selain itu, Usmar juga beranggapan bahwa Darah dan Doa mencerminkan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, tanggal 30 Maret yang bertepatan dengan hari pertama syutingnya, kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Pengaruhnya dalam dunia perfilman masih terasa hingga kini. Semangat dan dedikasi Usmar Ismail terus menginspirasi generasi muda dalam berkarya. Keberaniannya menyuarakan realitas sosial melalui film menjadi teladan bagi sineas yang ingin menghadirkan karya bermakna. Warisan yang ia tinggalkan tidak hanya mengukir sejarah, tetapi juga memberikan arah bagi masa depan perfilman Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya dalam dunia perfilman, pemerintah mengabadikan namanya dalam Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Jakarta.

Usmar Ismail bukan hanya seorang sutradara, tetapi juga tokoh penting dalam perkembangan film Indonesia. Lewat karyanya, ia membuktikan bahwa film dapat merekam sejarah, menyuarakan realitas sosial, dan memperkuat identitas bangsa. Hingga kini, pemikirannya masih menginspirasi sineas muda. Oleh karena itu, tidak heran jika ia dikenang sebagai Bapak Film Nasional, dan Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret menjadi bentuk penghormatan atas jasanya.

Karya: Ismi 

Editor: Indepth

Senin, 24 Maret 2025

KETUA DPRD PROVINSI LAMPUNG AKAN SAMPAIKAN ASPIRASI MAHASISWA KE PEMERINTAH PUSAT

[ Berita ]


Sumber: Novita

Raden Intan – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung akan sampaikan aspirasi mahasiswa ke pemerintah pusat. (Senin, 24/03/25)

Ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung, menuntut pencabutan UU TN dan penolakan RUU Polri. Aksi yang berlangsung pada hari ini mendapat respon langsung dari Bapak Ahmad Giri Akbar, SE., M.BA., selaku Ketua DPRD Provinsi Lampung, turun langsung menemui para demonstran untuk berdialog. 

Massa aksi menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak regulasi tersebut, sementara Ketua DPRD menyampaikan bahwa ia akan menampung dan meneruskan aspirasi mereka ke pemerintah pusat. Situasi di lokasi aksi berlangsung dengan ketegangan yang tetap terkendali di bawah pengamanan aparat.

Ahmad Giri Akbar, SE., M.BA., memberikan tanggapannya secara langsung di depan para demonstran.

"Kami menerima aspirasi teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Provinsi Lampung untuk kami sampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), yang kedua juga kami berterima kasih atas aspirasi, masukan teman-teman BEM," ucapnya.

Selanjutnya, Muhammad Ammar Fauzan selaku Jendral Lapangan yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Lampung (UNILA) dalam forum menyampaikan bahwa disahkannya UU secara diam-diam menyebabkan kekhawatiran kembalinya pada masa orde baru.

"Tentunya pada hari ini bentuk kekhawatiran teman-teman massa aksi terkait masa orde baru akan kembali karena disebabkan oleh pengesahan RUU secara diam-diam oleh DPR," jelasnya.

Reporter: Naya & Syifa

Editor: Indepth